Saturday, August 7, 2010

Sarana-Sarana Dakwah

Seorang teman berkata bahawa ia merasa tidak mempunyai kemampuan untuk berdakwah, kerana dia bukan seorang yang faqih dan bukan seorang yang tahu banyak tentang metode dakwah. Adapun hadits-hadits Rasul saw. yang berkaitan dengan dakwah yang telah dibacanya merupakan sebuah barakah. Ia tidak tahu bahawa barakah harus berbuah, dan buah dari barakah adalah produktivitas.

Rasulullah saw. bersabda,

"Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah."

Jadi, jika Anda tidak tersenyum pada wajah saudara Anda, maka Anda tidak mendapatkan pahala sedekah itu. Jika setiap muslim mahu memberi senyum tatkala bertemu dengan saudaranya sesama muslim, kita akan menjumpai sebuah masyarakat muslim yang berwajah cerah dan saling mencintai. Inilah barakah dari sebuah senyuman yang tulus. Allah swt. pernah menegur Rasulullah saw. tatkala beliau bermuka masam saat ditemui oleh Ibnu Maktum ra. Allah berfirman,

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, kerana telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)."('Abasa:1-3)

Dari contoh ini Anda akan mengetahui bahawa setiap yang datang dari Rasulullah adalah metode dakwah dan manhaj tarbiyah.

Marilah kita mengambil salah satu contoh dari hadits-hadits berikut yang mengajarkan tentang sarana dan metode dakwah yang mudah dipelajari dan diterapkan oleh para da'i. Anda akan melihat bahawa pelajaran-pelajaran itu sangat gamblang dan akan menyadari bahawa daya tangkap kitalah yang memang belum sampai.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Rasulullah saw. bahawa beliau bersabda,

"Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam:jika bertemu maka berilah salam, jika tidak kelihatan maka cari tahulah, jika sakit maka jenguklah, jika mengundang maka penuhilah, jika bersin dan mengucapkan hamdalah maka jawablah (dengan mengucapkan 'yarhamukallah', dan jika meninggal dunia maka hantarkanlah (ke pemakaman)."

Pertama, jika bertemu maka berilah salam

Mengucapkan salam adalah langkah pertama, akan semakin mantap jika diikuti dengan berjabat tangan. Ucapan salam harus disertai dengan perasaan cinta, senang, dan wajah yang berseri agar fungsi ucapan salam itu terwujud. Setelah itu saling memperkenalkan nama, pekerjaan, dan tempat tinggal. Dengan demikian Anda telah menapaki tahap awal dalam berdakwah.

Kedua, jika tidak kelihatan maka cari tahulah

Watak sebuah perkenalan adalah jika seseorang yang telah Anda kenal itu tidak Anda lihat dalam waktu ter-tentu, maka Anda harus mencari kabar tentang keadaannya atau menghubunginya, baik lewat telepon mahupun surat.

Ketiga, jika sakit maka jenguklah

Sunnatullah akan berlaku pada setiap orang, maka suatu saat ia akan merasa gembira, sedih, atau sakit; dan setiap kondisi harus disikapi dengan sikap yang islami. Jika Anda mendengar bahawa teman Anda sakit, Anda harus cepat-cepat menjenguknya, memberikan kesejukan, dan mendoakan untuk kesembuhannya; akan sangat baik lagi jika Anda membawa hadiah yang sesuai.

Rasulullah saw. bersabda,

"Hendaklah kalian saling memberi hadiah, kerana hadiah itu akan menjadikan kalian saling mencintai." (HR. Malik dalam "Al-Muwatha"')

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda,

"Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya sesama muslim kerana Allah, maka malaikat akan berseru kepadanya, 'Kamu dalam keadaan baik dan baikpula tempat tujuanmu, kamu pun akan ditempatkan di surga.'" (HR. Muslim)

Di tempat teman Anda tersebut, Anda pun dapat berkenalan dengan temantemannya. Dengan demikian Anda akan semakin banyak mempunyai kenalan. Jangan sampai kunjungan itu Anda pergunakan untuk membaca quran, majalah, atau berbicara yang tidak ada gunanya, agar tujuan kunjungan tersebut dapat terwujud. Jika Anda masuk rumahnya, hendaklah Anda duduk di mana Anda dipersilakan duduk. Diriwayatkan dalam sebuah atsar,

"Barangsiapa masuk rumah salah seorang di antara kamu maka duduklah di tempat tersebut, kerana kaum itu lebih mengetahui aurat rumah mereka." (HR. Thabrani)

Keempat, jika ia mengundangmu maka penuhilah

Setelah melewati tahapan-tahapan di atas maka hubungan antara kalian akan semakin erat. Suatu saat teman Anda akan menghadapi keadaan-keadaan penting, seperti sukses dalam tugas, pernikahan, atau yang lainnya, lalu ia mengundang Anda untuk menghadiri acara-acara tersebut. Anda harus memenuhi undangan tersebut kerana ini merupakan kesempatan berharga yang tersedia tanpa harus Anda rencanakan sebelumnya.

Begitu juga sebaliknya, Anda pun harus mengundangnya dalam acara-acara penting yang Anda adakan.

Kelima, jika ia bersin dan mengucapkan "hamdalah" maka jawablah (ucapkan "yarhamukallah")

Duduk bersebelahan dengan orang yang belum dikenal di suatu tempat, baik di perjalanan, pesta, mahupun tatkala menjenguk orang sakit, lalu orang yang duduk di sebelah Anda itu bersin maka hendaklah Anda menoleh kepadanya dengan wajah berseri seraya mengucapkan, "yarhamukallah (mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada Anda)." Tentunya hal ini akan menjadikan dirinya merasakan sesuatu yang baru dan setelah itu Anda dapat bercakap-cakap dengannya.

Keenam, jika ia meninggal dunia maka antarkanlah ke tempat pemakamannya.

Apa yang dapat ia lakukan setelah meninggal dunia dan dikubur? Pada hakikatnya, mengantar orang lain yang meninggal ke tempat pemakaman adalah mengantar dirinya sendiri, yang ia akan dapat mengambil nasihat, pelajaran, dan merenungkannya. Ini sebuah sunah Rasulullah saw. yang menggambarkan persatuan dan kesatuan kaum mushmin. Jika sebelumnya Anda dapat mengenal pribadi orang yang telah meninggal dunia, maka sekarang Anda dapat menggunakan kesempatan untuk berkenalan dengan keluarganya dan orang-orang yang berta'ziah ke rumahnya.
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda,

"Barangsiapa menghadiri jenazah hingga menshalatkannya, maka baginya pahala satu qirath. Barangsiapa menyaksikan hingga di makamkan, maka baginya dua qirath." Seorang sahabat bertanya, "Apakah dua qirath itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Seperti dua gunung yang besar." (Muttafaqun 'Alaih)

Dakwah Fardiyah

Setelah Abu Thalib meninggal dunia, penderitaan Rasulullah saw. semakin berat, sehingga beliau pergi ke Thaif untuk mencari perlindungan dari suku Tsaqif, dengan harapan agar mereka mahu menerima ajaran Islam.


Ketika sampai di Thaif, beliau menjumpai tokoh-tokoh dari suku Tsaqif, yang mereka itu tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas'ud, dan Hubaib. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti ajaran Islam dan menjelaskan maksud kedatangannya. Akan tetapi, mereka tidak mahu menerima kedatangan beliau, bahkan memanggil kaumnya dan menyuruh mereka agar mengusir dan mengolok-olok Rasulullah saw. Akhirnya Rasulullah berlindung di kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah, yang waktu itu keduanya berada di kebun tersebut dan mengetahui apa yang sedang dialami oleh Rasulullah saw.


Rasulullah duduk di bawah pohon kurma. Sementara itu hati kedua pemilik kebun itu tergerak untuk menolong, lalu menyuruh pembantunya yang biasa dipanggil Adas, "Ambillah setangkai anggur dan letakkan di nampan ini, lalu berikan kepada orang itu." Adas pun melaksanakan perintah tersebut dan datang ke hadapan Rasulullah seraya berkata, "Silakan dimakan." Rasul menerima anggur tersebut, lalu memetiknya, setelah itu membaca "bismillahirrahmanirrahim" dan memakannya. Mendengar bacaan itu, Adas terperanjat dan memandang Rasulullah dengan hairan. "Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini." Rasulullah berkata, "Wahai Adas, kamu berasal dari mana dan apa agamamu?" Adas menjawab, "Saya beragama Nasrani, saya dari negeri Ninawai." Rasulullah bertanya, "Apakah dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?" Adas berkata, "Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?" Rasulullah menjawab, "Dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi." Mendengar jawaban itu, Adas langsung menubruk Nabi, menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau.


Kedua pemilik kebun itu melihat kejadian tersebut, lalu seorang di antara mereka berkata kepada yang satunya, "Pembantu kita sudah diracuni oleh laki-laki itu." Tatkala Adas datang menghadap, keduanya berkata, "Celakalah kamu wahai Adas, apa yang menyebabkan kamu menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki orang itu?" Adas berkata, "Tuanku, tidak ada yang lebih baik dari ini. Dia telah memberi tahu kepadaku perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi." Mereka berkata, "Celakalah kamu wahai Adas, jangan sampai omongannya menjadikan kamu berpaling dari agamamu, kerana agamamu lebih baik daripada agamanya."


Saudaraku,


Kita sudah membaca kisah di atas. Sekarang mari kita petik pelajaran yang ada di dalamnya. Mari kita lihat bagaimana cara Rasulullah memikat hati Adas, lalu membimbingnya perlahan-lahan, hingga mahu mengikrarkan keislamannya.


Tatkala Adas datang kepada Rasulullah dengan senampan anggur lalu berkata, "Makanlah," Rasulullah memulai langkah pertamanya: beliau mengambil anggur itu dan membaca "bismillahirrahmanirrahim", lalu me-makannya. Seandainya Rasulullah tidak mengucapkan "bismillahirrahmanirrahim", tentu Adas tidak akan berkomentar apa pun.


Di sinilah terlihat pentingnya menonjolkan karakteristik Islam dengan melaksanakan sunnah Rasulullah, yang juga merupakan proklamasi aqidah Islamiah di negara-negara nonmuslim, kerana dengan begitu kaum muslimin dapat mengenal satu sama lain.


Langkah kedua adalah tatkala Adas memandang beliau dan berkata, "Ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini." Rasulullah lalu berkata, "Wahai Adas kamu berasal dari negeri mana dan apa agamamu?" Rasulullah memanggilnya dengan menyebut nama Adas. Panggilan dengan menyebut nama secara langsung itu mempunyai erti yang amat besar untuk mengakrabkan sebuah persahabatan. Kemudian beliau menanyakan tentang negeri dan agamanya. Ini merupakan sebuah rangkaian pembicaraan yang berurutan secara rapi.


Adas menjawab, "Saya beragama Nasrani, dari negeri Ninawai." Lalu Rasul bertanya, "Apakah kamu dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?"


Kita melihat bahawa Rasulullah memberikan gelar kepada Yunus as. dengan menyebut "hamba yang shalih". Inilah yang menjadikan hati Adas semakin tersentuh dan tertarik. la juga mengetahui bahawa Rasulullah mengetahui letak negeri Ninawai, sebuah negeri yang terletak di sebelah sungai Furat, Iraq. Ini semua menjadikan Adas semakin tertarik.


Adas bertanya, "Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?" Rasulullah menjawab, "Dia adalah saudaraku. Dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi."


Di sini terdapat sentuhan yang amat lembut. Ungkapan Rasulullah, "saudaraku," semakin membuat Adas tertarik dan percaya. Banyak kita jumpai orang yang bertanya tentang seseorang kemudian ia jawab, "la adalah saudaraku." Jawaban itu akan menambah keakraban dan rasa percaya. Dari nada bicara Rasulullah itu terlihat sifat tawadhu' beliau, yaitu beliau menyebut nama Yunus as. lebih dahulu sebelum menyebut nama beliau sendiri. Di sini terdapat pelajaran yang amat penting dan berharga bagi seorang da'i.


Banyak di antara kita yang tatkala membicarakan seseorang yang mempunyai "kelebihan" mengatakan, "Dia sekolahnya bersamaan dengan saya," atau "Dia dulu satu fakulti dengan saya." Padahal yang lebih baik adalah, "Saya dulu bersamanya waktu di sekolah menengah," atau "Saya dulu satu fakulti dengannya."


Saudaraku,


Inilah yang terjadi antara Rasulullah dengan Adas. Sebuah kisah yang sederhana dan mudah dicerna. Jadi, bagi da'i yang ingin memetik pelajaran dari kisah ini tidak akan merasa kesulitan.


Saudaraku,


Sekarang marilah kita perhatikan kisah-kisah yang lain. Ada beberapa orang yang ingin menjumpai Rasulullah saw. Salah seorang di antara mereka menceritakan, "Kami berusaha mencari tahu tentang Rasulullah, kerana kami belum pernah mengenal dan melihatnya. Kami bertemu dengan seorang laki-laki, lalu kami bertanya kepadanya tentang Rasulullah. la menjawab, 'Apakah kalian mengenalnya?' Kami menjawab, 'Tidak.' Ia berkata, 'Jika kalian masuk ke dalam masjid, maka Muhammad adalah seseorang yang duduk bersama Abbas bin Abdul Muthalib yang tak lain adalah pamannya.' Kami menjawab, 'Ya, kami mengenal Abbas, dia sering datang kepada kami untuk berdagang.' la berkata, 'Jika kalian masuk masjid, maka Muhammad adalah orang yang duduk bersama Abbas.' Kemudian kami masuk ke dalam masjid dan kami menjumpai Rasulullah yang sedang duduk bersama Abbas. Kami memberi salam, lalu duduk di dekat mereka. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Abbas, 'Wahai Abu Fadl apakah engkau mengenal dua orang ini?' Abbas menjawab, 'Ya. Ia adalah Bara' bin Ma'rur, seorang pemuka kaum dan ini Ka'ab bin Malik.' Rasul bertanya, 'Apakah dia penyair yang terkenal itu?' Abbas menjawab, 'Ya.'"


Sungguh, saya tidak pernah melupakan ucapan beliau, "Apakah dia penyair yang terkenal itu?" Demikianlah metode Rasulullah dalam memikat hati mad'unya.


Waktu itu saya sedang berada di pejabat pusat Ikhwanul Muslimin di Kairo. Saya melihat Ustadz Hasan Al-Banna sedang berbicara dengan salah seorang pemuda (saat itu ada banyak pemuda yang hadir di sana). Dalam pembicaraan itu, Ustadz Hasan Al-Banna banyak menyanjung tokoh-tokoh muslim Syria. Lalu pemuda itu bertanya dengan nada kehairanan, "Apakah Ustadz sudah pernah berkunjung ke Syria?" Ustadz menjawab, "Saya sudah berniat untuk mengunjunginya, mudah-mudahan Allah mengabulkannya."


Akhirnya harapan itu pun terwujud. Pada tahun 1948 M. beliau pergi ke Syria dalam acara penyambutan kedatangan rombongan Ikhwanul Muslimin yang datang dari Mesir untuk bergabung dengan anggota Ikhwanul Muslimin Syria dalam latihan militer di Quthna, sebelum ikut terjun dalam perang melawan Yahudi di Palestina. Kedatangan Ustadz Hasan Al-Banna sendiri disambut gembira oleh massa yang melimpah ruah.


Pada tahun 1948 M. saya masuk dalam anggota pasukan militer yang dikirim untuk berperang di Palestina. Waktu itu saya berkunjung ke pejabat Ikhwanul Muslimin di kota Gaza atas nama Jam'iyah At-Tauhid. Di dalam buku tamu saya menjumpai tulisan Ustadz Hasan Al-Banna yang telah datang ke Palestina bersama batalion pertama untuk mengusir Yahudi tatkala Inggris menarik pasukannya pada bulan Mei 1948 M. Di antara bunyi tulisan itu adalah: "Hari ini saya berkunjung ke pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di kota Gaza Hasyim...." Saya berhenti pada tulisan beliau, "Gaza Hasyim". Untuk pertama kalinya saya mengetahui bahawa Hasyim, kakek Rasulullah saw., dimakamkan di kota Gaza.


Saya pergi bersama beberapa teman untuk mengunjungi orang sakit di sebuah rumah sakit di Jerman. Ketika kami sedang berjalan, kami berpapasan dengan seorang doktor muda yang kelihatannya berasal dari Jerman. Namun tiba-tiba ia mengucapkan "Assalamu'alaikum" kepada kami. Salah seorang di antara kami mengejarnya dan berkenalan. Doktor itu mengatakan bahawa dirinya seorang muslim. Begitulah, seandainya doktor itu tidak mengucapkan salam, maka kami tidak akan mengetahui bahawa la beragama Islam dan kami pun akan kesulitan mendapatkan orang yang dapat membantu kami.


Tatkala saya berada di Jerman, saya dan seorang teman naik sebuah trem cepat. Kami duduk di sebelah seorang tentara Amerika berkulit coklat. Tatkala mendengar kami berbicara dengan bahasa Arab, la berkata, "Kalian beragama Islam?" Kami menjawab, "Ya, Alhamdulillah, kami adalah orang Islam." Lalu ia berkata dengan suara agak keras, "Saya juga seorang muslim, nama saya Muhammad." Kemudian dengan cepat la merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus rokok, lalu disodorkannya kepada kami. Kami menolak tawaran itu dengan ucapan terima kasih dan meminta maaf. Kemudian ia bangkit dan menjabat tangan kami dengan hangat sekali dan berbicara dengan bahasa Arab secara terbata-bata, "Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, 'Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia muliakan tamunya."


Kejadian itu menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar kami. Tatkala sampai di stesen tujuannya, ia berdiri dan menjabat tangan kami sekali lagi lalu turun dengan perasaan amat bahagia. Kami pun telah mencatat alamatnya, sehingga kami akan dapat berkirim surat kepadanya. Begitulah, seandainya kami tidak berbicara dengan bahasa Arab, niscaya ia tidak akan peduli dan kami akan kehilangan seorang teman.


Marilah kita melihat bagaimana orang-orang Perancis mengetahui masuk Islamnya ilmuwan besar berkebangsaan Perancis, Jake Koesto, seorang ilmuwan yang ahli di bidang kedalaman laut. Tatkala ia bepergian bersama teman-temannya, ia disuguhi minuman keras tetapi ia menolak. Teman-temannya bertanya, "Apakah kamu sudah masuk Islam?" Ia menjawab, "Ya." Ternyata ia sudah merahasiakan keislamannya selama bertahun-tahun. Begitulah, akhlak dan perilaku yang islami adalah dakwah.


Bagaimana Memulai Perkenalan

Suatu hari di tahun 1951 M. saya berada di pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di Jalan Iskandarani, Iskandaria. Lalu ada dua orang datang, yang sudah mempunyai janji dengan salah seorang teman. Saya sambut kedatangan mereka dengan menyebut nama-nama mereka. Tatkala teman yang mereka tunggu itu datang, mereka berkata kepadanya, "Kami tidak mengenalnya sebelum ini, tetapi bagaimana ia mengenal nama kami?" Kemudian saya diajak duduk bersama. Lalu saya berkata kepada keduanya, "Bukankah kalian berdua setiap pagi naik trem dari stesen Rashafah?" Keduanya menjawab, "Ya." Saya berkata, "Saya setiap pagi juga naik trem yang sama." Mereka berkata, "Akan tetapi kami tidak melihat anda bersama kami." Saya berkata, "Kerana saya memakai seragam militer." Keduanya teringat dan tersenyum lalu berkata, "Bagaimana Anda mengetahui nama kami?" Saya berkata, "Saya mendengar salah seorang di antara kalian berkata, 'Selamat pagi, Muhammad,' lalu yang satunya menjawab, 'Selamat pagi, Ahmad.'" Keduanya berkata, "Untuk apa Anda menghafal nama kami?" Saya menjawab, "Jawabannya adalah yang terjadi saat ini."

Tabiat dakwah kita adalah saling mengenal, dan saya yakin bahawa pada suatu saat dakwah kita akan dapat menghimpun orang-orang yang berjiwa baik dan berkepribadian mulia. Kejadian di atas sangat membekas di hati keduanya.

Imam Hasan Al-Banna adalah da'i yang sangat gemar menghafal nama. Ketika Dewan Tinggi Militer mengumumkan pemindahan beliau ke kota Qina di wilayah Sha'id (Mesir) pada tahun 1941 M., pada waktu itu diadakan penyambutan kedatangan beliau oleh pemuda-pemuda yang bergabung dalam gerakan pramuka, yang baru pertama kali itu mereka melihat beliau. Ustadz Hasan Al-Banna berjabat tangan dengan pemuda-pemuda itu dan menyebut beberapa nama mereka. Tatkala beliau ditanya tentang bagaimana beliau bisa mengenal nama-nama tersebut, beliau menjawab, "Ketika saya menandatangani kad anggota pramuka, saya menghafal nama yang tertera dan raut wajahnya."

Pada tahun 1951 M. ada seorang tamu yang berkunjung ke pejabat cabang di Rashafah. Ketika saya sambut kedatangannya dan saya tanyakan namanya, ia menjawab, "Muhammad Syakir Gharbawi." Saya bertanya, "Dari Ismailia?" Ia menjawab, "Ya. Anda tahu?" Saya berkata, "Sebentar." Lalu saya mengeluarkan buku catatan dari laci meja, di situ tercatat bahawa pada tahun 1936 M. ada seorang pemuda utusan Ustadz Hasan Al-Banna yang bernama Muhammad Syakir Gharbawi datang ke Rasyid dalam rangka mengumpulkan dana untuk kaum mujahidin Palestina. Tatkala target yang telah dicanangkan tidak terpenuhi, pemuda itu menangis. Ketika
Muhammad Gharbawi mengetahui isi catatan itu, ia langsung menangis dan berkata, "Demi Allah, saya tidak menyangka kalau kejadian itu bisa terkenang setelah waktu berlalu begitu lama."

Waktu itu saya sedang naik bus, tiba-tiba ada seorang pemuda berjanggut yang berusia tidak lebih dari tujuh belas tahun naik dan duduk di sebelah saya. Pada waktu itu janggut merupakan pemandangan yang sangat jarang ditemui. Hati saya mengatakan, "Ini adalah kesempatan yang baik untuk berkenalan dengannya." Lalu dengan senyum tipis saya bertanya kepadanya, "Maaf, kalau boleh saya tahu Saudara ini memanjangkan janggut kerana tradisi atau kerana ibadah?" Kelihatannya ia tidak faham dengan pertanyaan saya, lalu saya ulangi, "Kerana sunnah atau kerana yang lain?" Ia menjawab, "Kerana sunnah Rasulullah saw." Lalu saya berkata dengan gembira, "Masya Allah, Allahu Akbar!" Kemudian saya cepat-cepat mengulurkan tangan dan memperkenalkan din, "Saya saudaramu seaqidah dari Rasyid. Saya seorang pedagang." Ia pun lalu memperkenalkan diri, "Saya saudaramu seaqidah juga. Saya siswa sekolah menengah atas di Al-Abbasiyah." Kemudian saya hafal nama dan alamatnya pada waktu itu juga.

Saya sengaja memulai dengan memperkenalkan nama saya, kerana jika menanyakan namanya terlebih dahulu mungkin ia akan curiga, lebih-lebih situasi waktu itu sangat rawan.

Setelah melewati beberapa terminal, ia turun dan saya merasa gembira kerana dapat berkenalan dengannya. Setelah kejadian itu, saya pun sering menghubunginya.

Di setiap perjalanan, saya biasa membawa mushaf, quran, atau majalah. Biasanya, tatkala Anda membaca quran, orang yang duduk di sebelah Anda akan melirik dan ikut membaca. Di saat inilah Anda dapat meminjamkan quran pada orang tersebut. Setelah selesai membaca, ia akan mengembalikan quran itu dengan mengucapkan terima kasih. Di saat itulah Anda dapat berkenalan dengan memulai pembicaraan tentang topik yang dibahas dalam quran tersebut dan bagaimana tanggapan Anda tentang topik tersebut.

Jika memang tidak memungkinkan, sebuah perkenalan tidak harus diakhiri dengan mengetahui nama masing-masing, tetapi yang perlu diperhatikan adalah hendaknya pembicaraan yang berlangsung itu berkisar sekitar dakwah islamiah, kerana tugas kita adalah menyebarkan fikrah yang lslami. Mudah-mudahan Anda bisa bertemu dengannya pada kesempatan yang lain dan bisa berkenalan lebih jauh lagi.

Kadang-kadang duduk di sebelah saya seseorang yang belum saya kenal, dan saya berpikir bagaimana cara memulai pembicaraan. Jika saya lihat orang itu berkulit putih, saya bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang kedengarannya bodoh, "Apakah Saudara dari Sudan?" Lalu ia melihat kepada saya dengan pandangan kehairanan dan seakan-akan ingin berkata, "Apakah Anda buta?" Akan tetapi saya mendahului berkata, "Saudara jangan marah, kerana saya pernah melihat orang Sudan yang berkulit putih. Kalau begitu, Saudara ini dari mana?" Dengan begitu saya telah membuka tirai kebisuan di antara kami, dan setelah itu kami dapat melanjutkan pembicaraan. Jika orang itu berkulit coklat maka saya bertanya, "Apakah Saudara dari Qubrus?" Begitulah seterusnya. Inilah cara yang kadang-kadang saya pakai untuk membuka pembicaraan.

Suatu saat saya diundang untuk memberikan ceramah di pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di Matras, terletak di pinggiran kota Iskandaria. Pejabat cabang itu terletak jauh dari jalan raya, kira-kira satu kilometer. Tatkala saya turun dari bus, ada beberapa pemuda yang juga turun. Meskipun saya sudah mengetahui letak pejabat cabang itu, tetapi saya minta mereka agar mahu menunjukkan tempat pejabat tersebut. Di tengah perjalanan kami berbincang-bincang tentang dakwah islamiah, dan tak lupa saya singgung juga acara yang diadakan di pejabat cabang Ikhwanul Muslimin itu. Setelah sampai di tempat tujuan, beberapa dari pemuda tersebut ikut bersama saya, dan di pejabat itulah kami lebih mengenal satu sama lain.

Suatu ketika kami dalam perjalanan dari Iskandaria ke Asyuth ibukota Sha'id. Perjalanan itu membutuhkan waktu yang lama, sehingga kami membawa banyak makanan ringan. Waktu itu kereta api macet di tengah jalan lebih dari dua jam. Didorong oleh hadits, "Barang-siapa mempunyai kelebihan bekal, hendaklah memberikannya kepada orangyang tidak mempunyai bekal," (HR. Muslim) maka salah seorang di antara kami berdiri dan membagi-bagikan makanan kepada para penumpang. Dengan demikian kami sudah membuka pintu untuk saling mengenal, dan kejadian itu meninggalkan kesan yang baik di hati mereka.

Dulu, sebelum mengenal cara-cara yang islami dalam berdakwah, saya sering menggunakan cara-cara hasil ijtihad saya sendiri untuk memulai perkenalan. Suatu waktu saya pernah dengan sengaja menginjak kaki orang yang berdiri di sebelah saya sewaktu naik trem. Orang itu lalu berteriak marah, "Apakah Anda buta?" Saya menjawab dengan tenang, "Jangan terburu marah, wahai saudaraku. Memang saya ini seperti orang buta, kerana penglihatan saya yang sudah melemah." Lalu orang tersebut meminta maaf. Dengan demikian saya bisa mulai berkenalan.

Friday, August 6, 2010

Tiga Karakteristik Manusia

Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasi dalam tiga kategori, yaitu:

1. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah

Ia adalah orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid. Orang yang seperti ini harus dinomborsatukan, kerana mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, insya Allah.

2. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah

Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mahu terang-terangan dalam berbuat maksiat kerana ia masih menghormati harga dirinya. Orang-orang semacam ini menempati urutan kedua.

3. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah

Ia adalah orang yang bukan dari golongan pertama atau kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang lain, sedang orang lain mencibirnya kerana perbuatan dan perangainya yang jelek. Rasulullah saw. bersabda,

"Sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya kerana takut dengan kejelekannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Golongan inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah saw. sebagai: "Sejelek-jelek teman bergaul". (HR. Muslim)

Orang-orang semacam ini menempati urutan terakhir dalam prioritas dakwah fardiyah.

Ada seseorang berdiri di bawah pohon epal yang sedang berbuah lebat. Jika ia ingin memetik, ia terlebih dulu memetik buah yang dapat dijangkau dengan tangannya. Jika sudah habis, dan tinggal yang paling atas, maka jika dapat dijangkau buah itu akan dipetik dan kalau tidak, buah tersebut tidak akan terpetik.

Bukan bererti seorang da'i harus tetap berpegang dan terikat dengan urutan ini, kerana kadangkala keadaan bisa mengubah pandangannya dalam hal ini —dengan izin Allah— seperti yang terjadi pada Umar bin Khathab ra., Khalid bin Wahd ra., Amr bin Ash ra., dan yang lain.

Ada seseorang yang pergi ke pantai untuk memancing ikan dengan membawa peralatan pancing. Menurut pengalamannya, dengan peralatan yang ia bawa itu hanya akan mendapatkan ikan-ikan kecil. Tetapi pada saat itu ia terkejut kerana mendapatkan ikan yang besar.

Ada beberapa pemuda dari daerah Bulaq, Kairo, yang berkeliling mencari tanah yang kosong untuk digunakan sebagai tempat peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., yang akan dihadiri oleh Imam Hasan Al-Banna sebagai pembicara. Di sebelah warung makan, mereka menjumpai tanah lapang, lalu mereka bertanya kepada pemilik warung makan tersebut. Pemilik warung itu adalah Ustadz Ibrahim Karrum, seorang tokoh dari daerah Bulaq yang disegani oleh pemerintah yang berkuasa pada waktu itu dan disegani pula oleh kawan sendiri. Setelah mengetahui maksud dan tujuan pemuda-pemuda itu, beliau menyambutnya dengan sambutan yang luar biasa dan menyatakan kesediaannya. Setelah mereka kembali, mereka menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami kepada Ustadz Hasan Al-Banna.

Ketika Ustadz Al-Banna berangkat untuk berceramah dalam acara tersebut, terlebih dahulu beliau mengunjungi Ustadz Ibrahim Karrum dan mengucapkan terima kasih atas kebaikannya. Begitu pula tatkala beliau mulai berceramah, beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Ustadz Ibrahim Karrum untuk kedua kalinya.

Sejak saat itu, Ustadz Ibrahim aktif dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin. Pada bulan Maret 1954 M. beliau memimpin demonstrasi akbar terhadap Jamal Abdun Naser. Mereka menuntut agar Presiden Muhammad Najib dipulangkan ke Mesir dan anggota Ikhwanul Muslimin yang dipenjara dibebaskan. Beliau juga pernah dipenjara bersama anggota Ikhwanul Muslimin yang lain. Semoga Allah swt. memberikan rahmat kepadanya.

Tatkala seorang da'i melihat beberapa pemuda — yang wajah mereka menyiratkan ketaatan— maka ia berkeinginan untuk berkenalan dan mengajak mereka ke jalan dakwah.

Yang perlu diperhatikan adalah dalam mendekati mereka dibutuhkan langkah yang cermat, kerana biasanya pemuda-pemuda ini mempunyai seseorang yang, mereka segani dan hormati. Jika seorang da'i dapat mendekati orang tersebut, sangat dimungkinkan pemuda-pemuda itu mengikuti dakwah kita. Namun jika pendekatan ini tidak berhasil, sebagai da'i, ia tidak boleh putus asa. Ia harus mendekati salah satu pemuda —di antara pemuda-pemuda tadi— yang pemahamannya terhadap dakwah islamiah lebih mantap, bergaul dengannya — dan juga yang lain— dengan sabar dan penuh kasih sayang tanpa menyinggung permasalahan yang dapat menyebabkan hubungan itu terganggu. Jika —dengan izin Allah— pemuda itu mahu menerima ajakan kita, ini akan sangat membantu usaha kita untuk mengajak teman-temannya yang lain.

Pendekatan itu harus dilakukan dengan lemah lembut. Kita harus menyadari bahawa kita tidak diwajibkan untuk memastikan mereka semua menerima ajakan kita, namun jika mereka semua menerima ajakan kita, itu adalah rahmat dari Allah. Hanya Dialah yang berhak memberikan hidayah. Allah berfirman,

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orangyang mahu menerima petunjuk." (Al-Qashash: 56)

Ayat ini menjelaskan bahawa walaupun kita memberikan segenap hati kita untuk mengajak mad'u kita, tetapi hanya Allah-lah yang berhak membolak-balikkan hati orang tersebut.

Seorang tukang roti berdin di depan forn (tempat pembakaran roti), sambil memasukkan potongan-potongan roti ke dalamnya. Setelah menunggu beberapa saat, ia mengeluarkan roti yang sudah matang dan membolak-balikkan yang belum matang. Setiap kali ada roti yang sudah matang, ia akan mengeluarkannya. Bisa dipastikan bahawa ada beberapa potong roti yang jatuh ke dalam api dan terbakar.

Inilah keadaan da'i tatkala berdakwah di masyarakat; ia memberi sekaligus menerima (give and take). Suatu saat ia mendekat dan pada saat yang lain ia menjauh.

Ia akan memberi kepada setiap orang sebagaimana seorang doktor yang memberikan ubat dengan berlaku sabar. Setelah selang beberapa waktu, di antara mereka sudah ada yang tersinari oleh cahaya iman (inilah roti yang telah matang), ada yang menyambut ajakan tersebut kerana perasaan takut, ada yang menyambut ajakan tersebut kerana malu, ada yang bersikap angin-anginan, ada pula yang menjauh, dan bahkan ada yang berlaku tidak baik terhadap sang da'i. Untuk menghadapi mereka itu, kita tidak boleh putus asa, tetapi harus terus berusaha
sehingga yang ditunggu-tunggu dapat dipetik, disertai doa agar Allah membukakan hati mereka.

Adapun da'i yang menghabiskan waktunya hanya untuk satu orang dengan harapan agar orang tersebut mahu menerima ajakannya adalah tidak benar. Orang tersebut akan merasa bahawa dirinya diajak dengan cara yang sangat berlebihan, sehingga ia akan berprasangka buruk, dan bisa jadi ia akan lari dari ajakan itu, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah swt.

Kaedah yang harus kita perhatikan adalah: "Ambillah yang mudah dan tinggalkan yang sulit, jika ada yang mudah".


Menghafal Nama

Menghafal nama adalah hal yang penting, kerana dari sinilah terjadi interaksi dan lahir sifat saling percaya sesama individu. Ia merupakan langkah awal dan benang pertama yang mengikat antara hati individu. Ia adalah benang yang mengikat bola-bola kecil yang berserakan. Setiap orang tentu akan merasa senang jika dipanggil dengan namanya, apalagi dengan nama yang paling ia sukai.

Menghafal nama mempunyai peran yang amat penting. Oleh kerana itu, akan saya paparkan beberapa metode yang dapat membantu permasalahan ini.

1. Hendaklah kita tanamkan rasa ingin dan suka menghafal nama orang lain.

2. Ketika sedang berkenalan, hendaklah kita siap untuk menghafal namanya — secara lengkap atau sebagian saja— lalu mengingat-ingat dan memakainya pada saat itu juga tatkala bercakap-cakap.

3. Nama biasanya terdiri dari tiga bagian: namanya sendiri, nama orang tuanya, dan nama keluarganya. Nama yang paling disukai oleh pemiliknya adalah namanya sendiri atau kuniah-nya. (sebutan nama yang dikaitkan dengan anak laki-laki tertua, seperti Abu Khalid, Ummu Khalid, dan sebagainya). Jika Anda tambahkan pada nama itu nama keluarganya, itu akan lebih baik. Biasanya nama keluarga yang satu dengan yang lain tidak sama jadi sangat mudah untuk dihafal, seperti As-Siisi. Adapun nama-nama seperti Muhammad, Ali, Hasan, atau Sa'ad akan sangat banyak dijumpai, sehingga agak sulit menghafalnya.

4. Ketika berkenalan dengan nama yang baru, Anda harus mengingat orang-orang yang mempunyai nama yang sama —yang telah Anda kenal sebelumnya— agar mudah untuk menghafal.

5. Pada waktu berkenalan, Anda harus memperhatikan wajah dan keadaannya; apakah la berjanggut, memakai kaca mata, bagaimana warna kulit, suara, bentuk tubuhnya, pekerjaannya, serta di mana dan bagaimana perkenalan itu berlangsung.

6. Untuk memantapkan ingatan, Anda bisa menulis nama-nama tersebut, dan setiap kali bertemu hendaklah Anda memanggil mereka dengan nama-nama tersebut. Jika tempat tinggalnya jauh, hendaklah Anda mengirim surat kepadanya, kerana ini mempunyai impak yang amat besar dalam mempererat hubungan anda dengan mereka. Surat menyurat itu sendiri merupakan sarana dalam tarbiyah.

7. Ketika bertemu lagi, Anda harus mengingat-ingat pertemuan-pertemuan sebelumnya dan pertemuan yang pertama kali, kerana ini dapat membantu anda dalam mengingat namanya dengan cepat.

8. Berkenalan dengan seseorang merupakan pintu bagi anda untuk berkenalan dengan teman-temannya, hingga anda mempunyai data nama yang amat banyak. Anda pun harus berusaha agar nama-nama itu tetap melekat di kepala.

Rasulullah saw. bersabda,
"Termasuk sifat angkuh adalah seseorang yang masuk ke dalam rumah temannya, laludisuguhkan kepadanya makanan, ia tidak mahu memakannya; dan seorang laki-laki yang bersama-sama dengan laki-laki lain dalam perjalanan, tetapi ia tidak menanyakan namanya dan nama orang tuanya." (HR. Ad-Dailami)



Thursday, July 15, 2010

Untukmu Saudaraku

Individu adalah komponen terkecil penyusun masyarakat. Dia memegang peranan penting dalam menentukan perjalanan dan bentuk masyarakat itu sendiri. Oleh kerana itu, yang menjadi tonggak dalam gerakan kita adalah individu, kemudian keluarga, dan akhirnya masyarakat. Maka perbaikilah dirimu terlebih dahulu, kemudian serulah orang lain ke jalan kebaikan. Kerana terwujudnya peribadi-peribadi yang benar-benar mukmin akan membuka banyak peluang untuk sukses. Inilah karakteristik Islam yang paling menonjol, iaitu pembentukan pribadi Islami {takwin asy-syakhshiyah al-islamiyyah).

Walau jumlah orang yang memusuhi Islam sangat banyak, namun jika kita dapat mengajak satu orang dari mereka dalam setiap hari agar mahu bergabung dalam dakwah Islamiah, maka perlahan tapi pasti kita telah mengentaskan mereka dari kehinaan jahiliah menuju kemuliaan di bawah naungan cahaya Islam.

Bukankah ini adalah tujuan dakwah? Bukankah mencari pengikut dengan cara seperti ini adalah tindakan yang bijaksana dan akan membuahkan hasil yang jelas? Tugas kita adalah meluruskan pendapat umum yang salah terhadap Islam. Jika individu bisa menjadi baik, maka masyarakat pun akan menjadi baik, dan dengan sendiri-nya Islam akan berdiri tegak.

Dalam jamaah dakwah Islamiah sendiri, kita mengadakan suatu program yang kita sebut dengan projek al-akh al-wahid, yaitu setiap anggota berjanji dan berusaha untuk mengajak satu orang anggota baru dalam satu tahun.

Tidak seorang pun diperbolehkan menunda-nunda waktu, kerana perputaran waktu adalah bahagian dan pengobatan dan pembentukan (al-waqtu juz'un min al -ilaj wat al-takwin). Sehari dalam kehidupan individu adalah setahun dalam kehidupan umat. Umat yang mengerti betul akan hakikat kehidupan, mereka tidak akan pernah mati.

Ini semua akan bergantung pada para da'i dalam memandang kesucian dan urgensi risalah dakwah serta bergantung pada pengorbanan para da'i, baik harta, tenaga, mahupun waktu.

Yang perlu diperhatikan oleh para da'i pada masa pembentukan (fase takwiniyah adalah memberikan uswah hasanah, bertujuan menampilkan di hadapan masyarakat gambaran nyata tentang Islam. Ini harus dilakukan dengan kemantapan iman, pemahaman yang universal, dan bertoleransi dalam masalah-rnasalah khilaf dan furu'
.
Metode dakwah haruslah secara tadarruj (bertahap), sebagaimana firman Allah swt.,


"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."(Asy-Syu'ara: 214)

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik." (Al-Hijr: 94)

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, kerana sesungguhnya mereka telab dianiaya. Sesunggubnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu." (Al-Hajj: 39)

Dari anasir jahiliah, Rasul mencetak pasukan hidayah. Dari anasir hidayah, Rasul menaklukkan negen-negeri thaghut. Di jalan itulah, Rasul meletakkan sistem dakwahnya.

Tugas Kita

Dalam memberikan arahan (taujih) tentang tugas dakwah, Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan perumpamaan dengan perkataannya, "Di setiap kota terdapat pusat pembangkit tenaga elektrik. Para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran elektrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika aliran elektrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya, niscaya seluruh penjuru kota akan gelap gulita. Padahal saat itu tenaga elektrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit elektrik, hanya saja tenaga elektrik yang ada itu tidak dimanfaatkan."

Demikianlah, Allah swt. telah menurunkan Al Qur'an Al-Karim kepada kita, dan dialah sebesar-besar energi dalam kehidupan ini. Allah swt. berfirman,

l
Sesunggubnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Maidah: 15-16)

Begitu pula dengan Al-Qur'an Al-Karim, ia adalah pusat pembangkit "tenaga" bagi kaum muslimin, tetapi sumber kekuatan itu kini dicampakkan oleh kaum muslimin sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan kehidupan pun menjadi rusak.

Tugas kita sebagai da'i adalah seperti tugas para pegawai elektrik, mengalirkan kekuatan ini dan sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar senantiasa bersinar dan menerangi sekelingnya. Allah swt. berfirman,

"Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaan orang yang berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (Al-An'am: 122)

Tatkala anda ingin memikat hati mad'u, anda harus ingat bahwa anda adalah seorang da'i, bukan seorang ulama atau fuqaha. Tatkala anda berdakwah, anda harus ingat bahwa anda sedang memberikan hadiah kepada orang lain, maka anda harus mempertimbangkan hadiah apa yang sekiranya patut diberikan dan bagaimana cara memberikannya.


Rintangan Dakwah

Permasalahan yang menghadang seorang da'i di tengah medan dakwah adalah permasalahan yang muncul dari dalam dirinya, padahal orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuatu tersebut. Seseorang yang tidak memiliki kunci, maka sulit baginya untuk masuk. Manusia yang hatinya terkunci sehingga sulit dimasuki oleh dakwah, bagaikan brankas besar yang sebenarnya dapat dibuka hanya dengan kunci yang kecil. Demikianlah persoalannya, yang sesungguhnya kembali kepada diri sang da'i itu sendiri, yakni berkaitan dengan potensi dirinya secara ruhiah, di samping kecekapannya untuk membuat program, serta ketahanan dalam
mewujudkannya.

Jika kita telah faham bahawa syaitan juga membuat program untuk para pengikutnya dengan langkah-langkah yang bertahap (sebagaimana firman Allah, "Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan." (Al-Baqarah: 168), maka sudah selayaknya seorang da'i juga membuat program dan langkah-langkah dalam mengambil simpati mad'u. Sungguh sangat jauh berbeza antara tujuan syaitan dengan tujuan orang-orang yang beriman. Allah swt. berfirman,

"Dan janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuh kalian). Jika kalian menderita kesakitan (kekalahan), maka mereka sesungguhnya juga menderita kesakitan (pula), sebagaimana kalian menderitanya. Sedangkan kalian mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (An-Nisa': 104)

Oleh kerananya, seorang da'i hendaklah memperhatikan celah-celah kebaikan yang ada pada orang lain kemudian memupuknya, sehingga celah-celah keburukan yang ada padanya tersingkir dan ia mahu bangkit berdiri melangkah di jalan Islam.

Tugas seorang da'i seperti tugas seorang pengajar dan dokter yang akan memberikan ubat sesuai dengan penyakit yang diderita oleh pesakitnya. Tidak masuk akal kalau semua pesakit diberi ubat yang sama, kerana penyakit mereka tentu berbeza-beza satu sama lain.

Pengajar dan doktor adalah da'i yang paling berjaya, jika mereka bersedia melakukan pekerjaan itu dengan didasari keimanan kepada Allah dan untuk menegakkan agama-Nya. Didasari oleh alasan inilah, para misionaris dalam memerangi dunia Islam memusatkan perhatian mereka pada universiti-universiti dan rumah sakit-rumah sakit, serta menyalurkan berbagai bentuk bantuan.

Tugas pengajar adalah menghayati hati dan pola pemikiran siswa, lalu membimbing mereka sedikit demi sedikit, sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana, sedangkan tugas doktor adalah menghapus penderitaan pesakit dengan kata-kata yang dipenuhi keimanan dan memberikan ubat yang sesuai.

Mungkinkah seorang da'i mengajak orang lain untuk kembali kepada ajaran-ajaran Islam tanpa memberikan kasih sayang kepadanya?

Perilaku dan keteladanan seorang da'i yang ikhlas akan mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada tulisan dan ceramah. Ibarat remote control yang dapat digunakan untuk memindahkan acara TV dari jarak yang jauh tanpa harus memakai kabel, begitu juga dengan seorang da'i yang ikhlas dan penuh kasih sayang. la tidak akan kesulitan memasukkan apa yang ada dalam hatinya ke dalam hati orang lain.

Jika tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa iri dan dengki itu dapat memberikan mudharat, maka tatapan mata yang dipenuhi rasa iman dan kasih sayang akan menimbulkan cinta dan keimanan.

Dari sini kita dapat mengetahui betapa berharganya indra yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia. Indra adalah bagian penting dari tubuh manusia, sedangkan jasad secara keseluruhan adalah sebagai tempat tinggal bagi indra tersebut. Allah swt. berfirman,

"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?' Perhatikanlah bagaimana berkali-kali Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga)." (Al-An'am: 46)

"Katakanlah, 'Dialah Yang menciptakan kalian dan menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati.'" (Al-Mulk: 23)

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) lidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A'raf: 179)

Orang yang tidak mengetahui dan mensyukuri nikmat Allah swt. berupa indra adalah orang yang tidak mengetahui sumber kehidupan yang amat besar. Allah swt. berfirman,

"Ataukah seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; gelap gulita yang tindih-menindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tidaklah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (An-Nur: 40)

Dengan kehilangan indra, manusia akan menjadi sosok makhluk yang tidak hidup dan tidak mati. Ia menjadi makhluk yang tidak berguna. Kalau sudah begitu, maka ia tidak akan bisa memberikan pengaruh kepada orang lain, kerana alat penerima dan pengirim sudah lidak lagi berfungsi, seperti orang yang tidur di atas ranjang emas tetapi ia tidak menyadarinya, kerana indra-nya sedang tidak berfungsi. Manusia yang demikian itu membutuhkan orang yang membangunkan dari tidur-nya yang lelap. Allah swt. berfirman,

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan itu ia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaanya dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (Al-An'am: 122)

Marilah kita perhatikan gambaran-gambaran berikut, "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, danpenglihatan mereka ditutup. Bagi mereka siksa yangamat berat." (Al-Baqarah: 7)

"Dan Kami adakan tutup di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Apabila kalian menyebut Rabb kalian saja dalam Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang kerana bencinya." (Al-Isra': 46)

Orang yang tidak menggunakan indranya adalah orang yang hidup dalam "dunia yang tidak nyata", sehingga alam sekitarnya tidak akan melihat dan merasakan keberadaannya, serta tidak akan sedih jika ditinggal pergi.

Mereka tidak memahami makna hidup yang sebenarnya, tujuan penciptaan, dan tanggung jawab yang dibebankan. Adapun da'i, ia ibarat qalbu (hati), maka barangsiapa yang tidak memfungsikan hatinya, ia tidak mendapatkan sambutan dari masyarakatnya. Allah swt. berfirman,

"Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku Iemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159)

Hati yang beriman adalah sumber penggerak, sebagaimana firman-Nya,
"Tiada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (At-Taghabun: 11)

Perasaan dan kasih sayang adalah "bahasa" internasional yang dipergunakan oleh da'i dalam menghadapi seluruh penduduk bumi, hingga kepada orang bisu sekalipun.

Kerana rahmat Allah-lah Anda berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu berlaku keras lagi kasar, tentulah mereka akan menjauhimu, wahai para da'i.

"Bahasa" ini ibarat mata wang yang ditetapkan untuk dipakai oleh setiap negara secara internasional. Dengan "bahasa" inilah, generasi pertama umat ini dapat menaklukkan dunia. Mereka adalah lentera kehidupan.

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau mempergunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaaf: 37)

Oleh kerana ltu, barangsiapa tidak mengingat, merasakan, dan terpengaruh oleh keburukan atau keindahan, ia adalah orang yang tidak mempunyai hati.

Abbas As-Siisi

At-Thariq ilal Quluub

Bagaimana Menyentuh Hati

Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah


Kata Pengantar

Dr. Al-Habr Yusuf Nur Ad-Daim

Buku yang berada di hadapan para pembaca ini — Ath-Thariq ila Al-Quluub—adalah karya Syaikh Abbas Hasan As-Siisi, seorang tokoh da'i yang mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman tentang rahsia hati.

Jika Anda bertemu dengan beliau, Anda akan tertarik dengan akhlaknya yang sangat baik, raut wajahnya yang ceria dan bersahabat, serta sorot matanya yang menyejukkan. Itu jugalah yang saya alami tatkala pertama kali bertemu dengan beliau. Anda pun akan langsung menyukainya jika Anda bertemu dengannya. Semakin lama Anda bergaul dengannya, maka semakin dalam pula rasa suka anda terhadapnya, kerana Anda akan mengetahui bahawa beliau adaiah orang yang penuh dengan pengalaman dan sibuk dalam dakwah, sehingga seakan-akan tidak mempunyai waktu lagi untuk mengurus permasalahannya sendiri dan permasalahan anakanaknya.

Semua pemuda yang berjuang di jalan dakwah merasakan belaian kasih sayangnya. Beliau menganggap mereka semua sebagai anak-anaknya sendiri dan mereka pun menganggapnya sebagai orang tua sendiri, sehingga timbullah saling pengertian dan saling berbagi rasa. Jika beliau berada di antara mereka, beliau akan menjadi sebahagian dari mereka, hampir-hampir tidak bisa dibezakan. Sifat tawadhu'nya sangat tinggi.

Ungkapan saya ini bukan kerana sikap ghuluw terhadap beliau dan bukan pula bermaksud menyucikan beliau dari kesalahan (wa laa uzakki 'alallahi ahada). Akan tetapi, saya ingin agar para pemuda melihat kehidupan generasi pertama hasil didikan Asy-Syahid Hasan Al-Banna —semoga Allah memasukkan beliau ke dalam syurga-Nya— agar mereka mengetahui dampak positif dan tarbiyah qur'aniyah dalam membentuk pejuang-pejuang dakwah.

Generasi pertama itu benar-benar telah mengetahui rahsia hati manusia. Oleh kerananya, langkah yang mereka tempuh memang diorientasikan untuk membersihkan hati mereka dengan hidayah llahiah terlebih dulu, baru setelah itu mereka memberikan pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan kepada orang lain.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah difahami dan dibuat semenarik mungkin. Anda tidak akan bosan tatkala membacanya, bahkan Anda akan merasakan belaian kasih sayang yang menyentuh jiwa, sehingga Anda akan terus-menerus merindukannya.

Akhirnya, saya sungguh sangat berbahagia kerana telah diberi kepercayaan untuk memberikan kata pengantar bagi buku berharga ini.




Pengantar Penulis

Buku Bagaimana Menyentuh Hati ini, terbit pada saat Mesir tengah diguncang oleh aksi keganasan dan tindakan kekerasan dan beberapa kelompok ekstrem.

Pada judul buku ini terdapat suatu kandungan maksud untuk membersihkan berbagai sikap keras dan tindakan kurang bijak dengan menunjukkan jalan-jalan menuju hati. Allah swt, berfirman,

"Maka disebabkan rahmat dan Allah-lab kamu berlaku lemah lembut terbadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berbati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (Al-Imran: 159)

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesunggubnya dia telab melampaui batas, maka berbicaralab kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut" (Thaha: 43-44)

"Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (Fushilat: 34)

Rasul bersabda, "Seorang wanita masuk neraka gara-gara seekor kucing yang dikurungnya tanpa diberi ma-kan dan minum, dan ia memnggalkannya dengan tidak memberi makan meski dan serangga tanah."

"Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buab hati dalam rongganya." (Al-Ahzab: 4)

Kerana itu, tidak mungkin pemilik hati yang sarat cinta dan keimanan, pada saat yang sama ia adalah se-orang yang berhati gersang, kasar, serta menyimpan rasa dengki dan kebencian kepada pihak lain.

Bismillakirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada seutama-utama Rasul: Muhammad saw.

Amma ba'du.

Ibadah, menurut sebahagian besar kalangan kaum muslimin, berlalu hanya sebatas bentuk penampilan lahiriah saja, tanpa ruh. Seorang muslim dengan asyiknya menunaikan ibadah tanpa peduli bahwa Islam adalah juga agama "misi dan dakwah". Kerana itu melemahlah peranan sosial dan dakwahnya. la tidak mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat untuk mengubah dan mencelupnya dengan warna Islam, secara teoritis maupun praktis, baik dalam tataran emosi, syiar, dan syariatnya sekaligus.

Bila risalah Islam ditujukan bagi seluruh umat manu-sia di muka bumi, maka sangatlah mendesak bagi masyarakat untuk dapat melahirkan para da'i yang memiliki kapasitas memadai dalam bidang ilmu, kecakapan, dan keteladanan. Seorang da'i yang mampu memahami rahsia jiwa seseorang, mampu menghiasi diri dengan watak sabar dan lapang dada.

"Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku." (Thaha:25)

Mereka harus juga memiliki firasat yang tajam dan argumentasi yang kuat. Allah swt. berfirman,

"Katakanlab, 'Inilab jalan (agamajku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah ilengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orangyang musyrik.'" (Yusuf: 108)

Rasulullah saw. bersabda,

"Waspadalah kalian terhadap firasat seorang mukmin, kerana ia melihat dengan cahaya Allah."

Para da'i itu juga harus memiliki kemampuan untuk membangkitkan "indra ketuhanan" demi menarik sim-pati hati, menyatukan jiwa, dan berinteraksi dengan gerakan dakwah beserta medannya yang membentang luas. Ini semua dapat terwujud dengan ajakan dan seruan yang baik, cara yang baik, metode dialogis, dan argumen-tasi yang lebih baik, serta keteladanan yang "tanpa cela". Demikian itu kerana dalam tradisi yang kita kenal "kesu-cian suatu tujuan menuntut kesucian cara dalam merealisasikannya". Sebelum tujuan tercapai, sarana harus sudah ditentukan, tidak ada tawarmenawar dalam hal ini.

Semenjak diterbitkannya buku Ath-Thariq ilal Quluub edisi pertama (edisi terjemahan Era Intermedia "Dakwah dan Hati", edt.) pada tahun 1986, muncul fenomena yang menunjukkan maraknya kesadaran Islam, kasih sayang, dan ikatan hati di kalangan para pemuda Islam. Fenomena ini kemudian merebak dan meluas pada kehidupan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia Islam, yang membangkitkan perasaan di dada mereka untuk bertemu, bersatu, dan berbuat sesuatu secara nyata dengan landasan Al-Qur'an dan Sunah Nabi, dipilari oleh kecerdikan, kesadaran penuh, kewaspadaan, kesabaran, kesetiaan, hasrat menggelora yang tidak tergoyahkan oleli berbagai ujian, dan tidak mudah terseret oleh ambisi nafsu dan dinamika zaman.

Yang dapat membantu kita untuk ltu adalah "taqwa kepada Allah", baik ketika sendiri mahupun di tengah keramaian, juga "yakin akan janji Allah", yang tiada keraguan di dalamnya.

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalayn ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah~Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku."(An-Nur:; 55)

Di samping itu, kita harus membekali diri dengan ikatan kasih sayang yang mendalam untuk peneguhkan hati dan mengokohkan pijakan bersama Kitabullah dan syariat Allah yang jelas.

Untuk kefakiran kukenakan pakaian kebesaran

Untuk kesabaran kupilin tali yang panjang

Aku bersabar kerana tekad, bukan kerelaan

Dan kubangun dakwahku, generasi demi generasi

Allah swt. berfirman,

"Wahai orang-orang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertaqwalah kalian kepada Allah supaya kalian beruntung." (Ali Imran: 200)


Abbas As-Siisi
Rabi'ul Awal, 1416 H/Agustus 1995 M.




Persembahan

Kepada anakku, Al-Walid

Di kegelapan yang hitam pekat ini

aku menatapmu dengan mata hatiku

aku datang dari jauh menuju fajar baru

dengan cita-cita yang mengharu biru kalbu

untuk mengangkat panji Islam kembali

seperti dahulu.




Pendahuluan

Buku ini saya peruntukkan bagi para pemuda yang merasa terpanggil oleh seruan Allah swt.,

"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran: 104)

Dengan semangat tinggi mereka menyeru manusia kepada kebenaran dan kebaikan, tetapi banyak di antara mereka yang tidak mengetahui cara mengambil hati objek dakwah, sehingga banyak kesempatan berharga yang terbuang sia-sia.

Saya yakin bahwa cara untuk memikat hati objek dakwah dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti umur, pendidikan, tradisi, dan pola pikir.

Di dalam buku ini saya ingin mengemukakan beberapa kiat praktis tentang cara memikat hati tersebut, yang mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya oleh para da'i.

Setiap jamaah, kelompok, atau partai mempunyai cara dan sarana tersendiri dalam merangkul massa sesuai dengan tujuan masing-masing. Sebagai da'i dan da'iyah kita pun harus menggunakan cara dan sarana yang diilhami oleh aqidah islamiah, sehingga langkah yang kita tempuh tidak terlepas dari rambu-rambu syariat.

Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita metode berdakwah yang mudah untuk diterapkan dan mencakup segala segi kehidupan, sehingga siapa saja yang ingin berdakwah tidak akan kesulitan mencari raetode yang tepat dalam bergaul dengan masyarakat, mengajak mereka kepada kebenaran, dan bersabar atas gangguan yang diterima.

Allah swt. berfirman,

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?' Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia." (Fushilat: 33-34)





Wasiat Hasan Al-Banna

Saudaraku,

Janganlah engkau putus asa, kerana putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahawa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kelmarin, dan impian hari inj adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidup-nya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.

Allah swt. berfirman,


"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi
(Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman serta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dan mereka itu," (Al-Qashash: 5-6)

Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, kerana bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita. Hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.

Bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya esok hari, kerana bisa jadi engkau tidak bisa berbuat apa-apa di esok hari.

Kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti. Kita harus terus berbuat dan terus melangkah, kerana kita memang tidak mengenal kata "berhenti" dalam berjihad.

Allah swt. berfirman,

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami." (Al-Ankabut: 69)

Hanya Allah-lah dzat yang Maha Agung, bagi-Nya segala puji.