Friday, October 15, 2010
Tuesday, October 5, 2010
Tuesday, August 31, 2010
تقول الفتاة ..... ونقول لها
| |
|
|
| بسم الله الرحمن الرحيم 1. تقول المتبرجة :إننى أحب الله و هذا يكفى 2. تقول : إن الدين يسر 3. تقول: إن التبرج أمر هين 4. تقول: إننى صغيرة و سوف أتحجب عندما أكبر
5. تقول: سوف أتحجب بعد الزواج
6. تقول: إن زوجى لا يرضى بالحجاب
7. تقول: أتحجب عندما أقتنع بالحجاب
8. تقول: إن الحجاب يعوق عن العمل و التعليم
9. تقول: أخشى من سخرية الناس
10تقول:لا أطيق الحجاب فى الصيف و الحر
11. تقول: المجتمع كله هكذا
12. تقول: إن طهارة القلب تغنى عن الحجاب
13. و أخيرا أختاه أتقى الله فى نفسك ..أتقى الله فى شبابك قبل هرمك.. أتقى الله فى شباب المسلمين أتقى الله يا حفيدة عمر بن الخطاب .. يا حفيدة خديجة وعائشة
لا تؤخر التوبة فإن الموت يأتي بغتة وإذا كنت في الصلاة فاحفظ قلبك وإن كنت على الطعام فاحفظ حلقك وإن كنت في بيت الغير فاحفظ بصرك وإن كنت بين الناس فاحفظ لسانك سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم اللهم اغفر لي ولوالدي وللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والاموات
.. لااله الا الله عدد ماكان ومايكون وعدد الحركات والسكون..
ْْ سبحان الله وبحمده,, سبحان الله العظيم ْْ |
|
|
Suatu Ketika
Tingkatan 5 merupakan penentu kepada masa depan.. tapi memandangkan result SPM aku x berapa ok walaupun cukup-cukup makan, aku sambung pulak ke peringkat STAM kat Sekolah Agama Menengah Tinggi Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Batu 38 Sabak Bernam (SAMT SAAS Bt 38).. Masa tu memang tak tau nk buat apa. Kawan memang ramai, maklumla mula-mula masuk asrama.. belom biasa dengan keadaan tu..hehee.. masuk je sekolah tu seminggu, dah kene orientasi.. masa tu memang x bleh lupa.. rasanya macam diperbodohkan je..hahaa.. yang kene tu semua pelajar-pelajar baru. malam pulak ade OBH.. yang tu paling aku x suka.. dh la kene tutup mata, ditakutkan lagi ngn bunyi-bunyi "makhluk" kasar.. nasib baik tak ade yang kene histeria.. aku paling ingat masa tu aku diletakkan kat tepi pagar sekolah..tapi aku relax je.. alhamdulillah, yang penting takut pada Yang Maha Satu.. Habis je orientasi, memang penat tak terkata.
Senyummu di Depan Saudaramu adalah Sedekah
Rasulullah saw. bersabda, "Senyummu di muka saudaramu adalah sedekah," dan bukan "Senyummu untuk saudaramu." Dalam hadits di atas dipakai kata "muka", kerana pada wajah terdapat banyak indra, dan ia merupakan gambaran hakiki seorang manusia. Oleh kerananya, sebuah senyuman yang tidak terlihat oleh saudara kita, tidak akan mempunyai erti dan tidak akan berkesan.Senyuman adalah gambaran isi hati yang menggerakkan perasaan dan memancar pada wajah seperti kilatan cahaya, seakan berbicara dan memanggil, sehingga hati yang mendengar akan terpikat.
Senyuman yang dibuat-buat tidaklah sama dengan senyuman yang tulus ikhlas. Senyuman yang dibuat-buat adalah sebuah kreasi seni, tak lebih dan sebuah plastik. Sedangkan senyuman yang tulus ikhlas adalah fitrah; ia ibarat bunga yang mekar di tangkamya, indah dipandang mata, dan harum baunya, yang menjadikan jiwa terlena dan bersimpati. Mengenai hal ini Rasulullah telah mengingatkan kepada kita dengan sabdanya,
"Kamu tidak akan dapat membahagiakan orang lain dengan hartamu, tetapi yang dapat membahagiakan mereka adalah wajah yang ceria dan akhlak yang mulia."
Lima puluh tahun yang lalu, penemuan ilmiah menyebutkan bahwa tumbuh-tumbuhan akan semakin subur manakala berada di tempat yang di situ terdapat alunan suara berirama slow, dan tumbuh-tumbuhan itu akan merasa "gembira" tatkala pemihknya menyirami-nya dengan air yang sejuk. Namun sebaliknya, tumbuhtumbuhan itu akan "menangis" tatkala ada yang meme-tik tangkai dan bunganya.
Rasulullah saw. bersabda,
"Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya."
Jika demikian keadaan tumbuh-tumbuhan dan benda-benda padat, maka keadaan manusia yang telah diberi oleh Allah swt. nikmat berupa indra dan akal tentu lebih dari itu. Itulah rahasia yang tersimpan dalam diri manusia. Manakala ia dapat menyibak rahasia itu, Allah akan membukakan baginya penglihatan dan mata hati mereka yang lalai dan terlena dalam kemaksiatan. Dengan iman, perasaan, dan kekuatan ruhiah, Islam mengubah banyak manusia dengan sebuah perubahan yang tidak bisa dilakukan oleh kekuatan-kekuatan materi.
Seorang da'i hendaklah merasakan nikmat iman yang tulus ikhlas, sehingga ia dapat menembus batu sekeras apa pun dan dapat menumbuhkan pepohonan meski di tengah padang pasir yang gersang. Ia akan dapat mencetak khairu ummah (umat terbaik). Kalau kita teliti, maka akan kita ketahui bahwa yang menyebabkan generasi pertama umat ini masuk Islam adalah senyuman yang tulus, pandangan yang teduh, pergaulan yang sim-patik, dan ucapan yang berkesan.
Penampilan Seorang Da'i
Cara bertutur kata dan penampilan seorang da'i akan menarik perhatian orang yang mendengar dan melihat-nya, karena pada dasarnya jiwa manusia cenderung dan tertarik dengan penampilan yang indah dan baik. Dari sini kita bisa melihat bahwa yang dipilih sebagai personil-personil pemasaran hasil produksi adalah orang-orang yang berpenampilan menarik, di sampmg kualitas produk yang terbaik.
Pada hakikatnya, dakwah adalah menawarkan sebuah risalah dan landasan pola berpikir yang tercermin dalam akhlak, kepnbadian, dan penampilan. Imam Hasan Al-Banna pernah ditanya, "Kenapa Anda tidak menyusun buku?" Beliau menjawab, "Tugas saya bukanlah untuk menyusun buku, karena buku biasa-nya akan diletakkan di perpustakaan dan sedikit sekali orang yang mau membacanya. Lain halnya dengan seorang muslim, ia adalah 'buku yang senantiasa terbuka' ke mana pun ia berjalan, itu adalah dakwah." Betapa banyak da'i yang tidak pandai berbicara dan berkhutbah, tetapi dengan rahmat Allah banyak mad'u yang berdiri di sampingnya. Ini disebabkan oleh getaran jiwa, pantulan wajah, kelembutan perasaan, penampilan yang simpatik, ditambah lagi dengan keimanan yang mendalam (al-iman al-amiq), serta pemahaman yang rinci dan syamil (al-fahmu addaqiq) yang dimiliki oleh seorang da'i. Ini bukanlah merupakan hal yang baru, karena
ia sudah ada sejak masa-masa awal perjalanan dakwah islamiah. Kita bisa menyaksikan sahabat Dahyah Al-Kalbi ra., delegasi Rasulullah saw. yang diutus menemui Heraklius, penguasa Rumawi. Dahyah ra. termasuk dalam deretan sahabat yang terkemuka. Ia mempunyai postur tubuh yang baik dan wajah yang tampan. Suatu saat —tatkala menyampaikan wahyu—Jibril as. pernah turun dengan menyerupai Dahyah ra. la bukan terma-suk ahli Badr. Peperangan yang pertama kali ia ikuti adalah perang Khandaq. Ia juga ikut serta dalam perang Yarmuk sebagai pemimpm pasukan bagian. Mush'ab bin Umair ra. juga berwajah tampan dan berpenampilan simpatik. Ibnu Sa'ad menceritakan dalam Tbabaqat-nya., "Ibunda Mush'ab adalah wanita yang kaya raya. Ia mem-berikan sebaik-baik pakaian dan sebaik-baik wewangian untuk Mush'ab. Sandalnya buatan Hadhramaut. Rasulullah pernah bersabda,' Aku tidak pernah mehhat di kota Makkah ini orang yang lebih indah rambutnya, lebih halus pakaiannya, dan lebih banyak kenikmatan-nya, daripada Mush'ab bin Umair ra.'"
Ja'far bin Abu Thalib ra. yang meraih syahadah (kesyahidan) di perang Mu'tah juga berwajah tampan dan berpenampilan menank. Beliau termasuk delegasi yang diutus oleh Rasulullah saw. kepada para raja dan penguasa.
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa ada seorang laki-laki tampan yang datang kepada Rasulullah saw., 'alu berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya adalah Drang yang suka keindahan dan saya telah diberi oleh Mlah keindahan itu, seperti yang engkau saksikan, sampai-sampai saya tidak suka jika ada orang yang nelebihi saya meskipun hanya berupa sandal jepit. \pakah ini termasuk sifat sombong?" Rasulullah menjawab, "Tidak, sesunggubnya yang dimaksud dengan sifat ombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan nang lain." (HR. Abu Daud)
Begitu pula seorang da'i yang hidup dalam sebuah masyarakat atau yang menjadi utusan pada sebuah ya-yasan atati jamaah, hendaklah senantiasa berpenampilan baik dan berakhlak mulia. Sebuah ungkapan mengatakan,
"Keberhasilan sebuah misi akan bergantung pada si pembawa misi tersebut."
Penampilan dan akhlak yang baik akan membuat orang yang baru saja memandang menjadi tertarik dan simpati. Maka kita akan menjumpai ada sebagian orang yang menggantungkan kepercayaan melalui pandangan matanya.
Tuesday, August 10, 2010
Salam Ramadhan

Kita dipertemukan dengan Ramadhan pada tahun ini, semoga ianya bukan Ramadhan yang terakhir bagi diri kita dan semoga kita depertemukan lagi dengan Ramadhan yang akan datang... Marilah kita bersama-sama perbanyakkan amalan, hapuskan dosa, tingkatkan pahala, semoga segala amalan kita akan diberkati selalu, insyaAllah.. amin Ya Rabb..Selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat bertaraweh..
Wassalam..
Sunday, August 8, 2010
Langkah-Langkah yang Harus Ditempuh
Pertama, Bertasbih, Bertakbir, dan Bertahlil
Ucapan tersebut adalah ucapan yang diungkapkan dengan lisan, rasa khusyu' dalam hati, dan munajat kepada Allah agar seorang muslim tetap berhubungan dengan sang penguasa. Juga merupakan kekuatan yang dapat membantu untuk bersabar dan istiqamah.
Berdzikir merupakan ibadah yang dapat dilakukan setiap saat. la juga merupakan motor yang tiada henti-hentinya bergerak membersihkan jiwa dari berbagai ko-toran. Orang yang berdzikir akan mendapatkan pahala yang amat besar.
Kedua, Menyingkirkan Duri di Jalan
Tatkala hukum dan ajaran Islam tegak di masyarakat, kita melihat bapak-bapak kita dan kakek-kakek kita rajin menyingkirkan batu, duri, atau tulang dari tengah jalan agar tidak mengganggu orang yang lewat. Jika mereka menemukan kertas bertuliskan ayat Al-Qur'an, hadits, atau huruf Arab, maka mereka memba-karnya atau menyimpannya.
Mereka menyapu depan rumah dan toko, serta membakar sampah yang sudah menumpuk. Itu semua mereka lakukan kerana didorong oleh satu faktor yaitu aqidah islamiah yang telah tertanam dalam hati mereka.
Tatkala kaum muslimin tidak mahu melaksanakan ajaran Islam, kita melihat tumpukan-tumpukan sampah di setiap tempat, lalat bertebaran di mana-mana, dan penyakit menyebar di setiap rumah.
Rasulullah telah mengajarkan kepada kita agar menyingkirkan duri dari tengah jalan dan menjadikannya sebagai sedekah yang berpahala besar. Oleh kerananya, jika ada di antara kita yang melempar duri atau yang lain ke tengah jalan, maka baginya dosa yang besar. Rasulullah saw. bersabda,
"Tatkala seseorang berjalan di suatu jalan dan menjumpai duri, lalu ia singkirkan duri tersebut, maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya."
Ini bukan hanya tanggung jawab setiap peribadi seorang muslim, tetapi juga merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh pemerintah Islam untuk menjaga kesehatan masyarakatnya dan 'izzah (kehormatan) umat Islam. Umar bin Khathab ra. berkata,
"Seandainya seekor keledai ditemukan (tersesat) di Iraq, maka sayalah yang bertanggung jawab, (kerana) kenapa saya tidak menunjukkan jalan pulang baginya."
Orang-orang yang pergi ke negara-negara Barat akan terhairan-hairan melihat jalan-jalan dan ganggang yang bersih. Pemerintah negara-negara tersebut menyediakan bermacam-macam sarana untuk mengumpulkan sampah, quran, dan majalah bekas pada hari-hari tertentu, termasuk perabot rumah tangga yang sudah tidak dipakai. Bahan-bahan kaca diletakkan dalam tempat khusus. Dengan demikian barang-barang bekas ini dapat didaur ulang. Setiap orang diwajibkan membersihkan lingkungan rumah dan tokonya, membersihkan salju dan daun-daun yang berjatuhan. Jika ada seseorang yang terpeleset dan tidak terima lalu membawa permasalahannya ke pengadilan, maka si empunya rumah dikenai denda, kadang-kadang sampai seribu dolar.
Dengan cara ini setiap kota atau desa berusaha untuk membersihkan dan menjaga keindahannya agar menarik perhatian wisatawan.
Di sana masih ada undang-undang yang lebih rinci lagi. Jika umat Islam mahu melaksanakan seruan Rasulullah saw. ini, yaitu mahu menyingkirkan duri dan semacamnya dari jalan niscaya masyarakat Islam akan tampil dengan penampilan yang indah berseri. Dengan demikian mereka telah menunjukkan jati diri ajaran Islam.
Ketiga, Menolong Orang yang Tuli atau Buta
Ada seorang yang ummi (buta huruf) menerima surat dari anaknya, seorang tentara yang sudah lama ia tunggu kabar beritanya. Tentu saja ia akan sangat membutuh-kan orang yang mahu membacakan surat tersebut. Begitu juga dengan orang yang tuli. Orang di sekitarnya ramai berbicara, tetapi dia tidak menampakkan tanda-tanda interaksi sama sekali, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Orang ini tidak merasakan keberadaannya dan tidak merasakan nikmatnya hidup, kecuali jika orang-orang di sekelilingnya mahu peduli terhadap permasa-lahan yang sedang ia hadapi.
Di salah satu Islamic Centre di Eropa, saya melihat seorang pemuda berkebangsaan Jerman. Di saat ceramah berlangsung, dia diam saja dan tampak sekali kalau ia tidak mengikuti ceramah yang sedang berlangsung kerana tidak memahami bahasa Arab. Lalu seorang di antara kami menerjemahkan isi ceramah tersebut kepadanya.
Perasaan apa yang dirasakan oleh orang yang tuli tatkala ia diacuhkan oleh masyarakatnya? Tentu saja ia akan menderita dan mungkin akan membenci orang-orang yang ada di sekitarnya.
Menolong orang yang tuli menunjukkan sikap saling mencintai, saling mengasihi, saling menolong, dan mem-perlihatkan karakteristik Islam.
Menolong Orang yang Buta
Kita telah mengetahui derita yang dialami oleh orang yang tuli, maka demikian juga yang dialami oleh orang yang buta, bahkan lebih menderita. Jika ingin pergi ke pasar, ia membutuhkan seorang teman sebagai penunjuk jalan, dan jika ia tidak mendapatkan teman lalu ia keluar ke jalan dengan menggunakan tongkat padahal ia tidak tahu arah ke pasar, pasti ia akan kebi-ngungan. Jika dalam keadaan seperti ini kemudian orang-orang yang berjalan di sekitarnya tidak peduli terhadapnya, ia akan merasakan kedengkian terhadap masyarakat yang individualis mi. Kalau sudah begini umat akan berantakan kerana kehilangan faktor terpen-tingnya, yaitu saling mencintai dan mengasihi.
Jika dalam keadaan semacam ini, Anda tampil dan mendekati laki-laki itu kemudian membimbingnya dengan lembut dan sopan ke arah yang ia tuju, maka Anda telah berbuat baik terhadap orang itu dan telah mengembalikan nama baik Islam.
Ada beberapa negara yang menyediakan tempat khusus bagi mereka dalam kendaraan-kendaraan umum. Ada juga yang menyediakan telepon umum khusus bagi mereka.
Dengan demikian mereka merasakan bahawa kondisi mereka diperhatikan. Lebih-lebih setelah ada penemuan baru, seperti alat bantu dengar bagi orang yang tuli dan alat bantu lihat bagi orang yang buta.
Keempat, Menunjukkan Orang yang Kebingungan
Banyak orang yang kebingungan tatkala berada di daerah yang belum ia kenal. Tentu saja ia sangat memerlukan orang yang dapat menunjukkannya. Ia bertanya ke sana kemari, tetapi jawaban yang ia terima adalah, "Saya tidak tahu." Ia bertanya lagi dan orang yang kesekian kali itu menjawab sambil menunjuk ke suatu arah, "Silakan Anda berjalan ferus ke arah ini lalu jika sampai di sebelah sana, maka bertanyalah." Ia bertanya lagi untuk yang kesekian kalinya, dan orang itu menjawab, "Mari saya antar ke tempat tujuan Anda." Kemudian ia diantar hingga sampai tujuan. Orang ketiga inilah orang yang berbuat baik dan meninggalkan kesan yang baik pula di hati orang lain.
Allah swt. berfirman,
"Wahai orang-orang yang ber-iman, ruku'lah kalian, sujudlah kalian, sembahlah Rabb kalian, dan berbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat kemenangan." (Al-Hajj: 77)
Beberapa anak kecil bermain di luar rumah. Mereka berlari-lari dan semakin lama semakin jauh dari rumah mereka. Tatkala tersadar, mereka kebingungan kerana tidak tahu jalan pulang ke rumah mereka. Seandainya satu di antara mereka tidak menjumpai orang yang dapat mengantarnya pulang, maka bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika ia terus berjalan dan memasuki tempat-tempat yang tidak ia kenali.
Orang yang kehilangan tasnya yang berisi surat-surat penting akan sangat berterima kasih kepada orang yang menemukan tas itu dan mengembalikan kepadanya.
Orang-orang yang mahu melaksanakan tugas-tugas mi akan dapat menumbuhkan rasa cinta dan menanamkan nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Dan inilah tugas seorang da'i.
Suatu hari di kota Iskandaria saya bertemu dengan seorang nenek yang tampak amat lelah. Ia datang dari sebuah desa untuk mencari anaknya. Ia membawa secarik kertas yang bertuliskan alamat anaknya yang sedang menjalani pendidikan militer. Di kertas itu hanya tertulis nama anak itu dan kota Iskandaria. Amatlah sulit mencari alamat yang dituju, kerana di kota Iskandaria terda-pat puluhan markas militer dan ribuan tentara. Akan tetapi, dengan taufiq Allah saya berpikir bahawa anak tersebut tentunya masuk di kemiliteran. Kalau begitu ia tentu berada di markas penerimaan prajunt atau berada di kem-kem latihan. Lalu saya pergi ke tempat itu dan akhirnya saya menemukannya. Setelah meminta izin, kami pun diizinkan menemui anak tersebut.
Setelah kejadian itu, saya sering diundang dalam acara-acara penting yang diadakan oleh keluarga ibu tersebut. Rasulullah saw. bersabda,
"Menunjukkan (jalan) orang yang tersesat adalah sedekah."
Di bandara Frankfurt, Jerman, seseorang tidak menyadari kalau tasnya tertinggal. Ia baru ingat tatkala pesawat terbang sudah lepas landas. Tas tersebut ditemukan oleh salah seorang pemuda muslim berkebangsaan Turki. Tatkala mengetahui tas tersebut berisikan kertas-kertas bertuliskan huruf Arab, ia langsung menyadari bahawa pemilik tas itu adalah orang Arab yang beragama Islam. Lalu ia bergegas pergi ke Islamic Centre setempat untuk menyerahkan tas tersebut. Akan tetapi sangat disayangkan, petugas yang menerima tas tersebut tidak menanyakan nama dan alamat pengantar tersebut, pada-hal orang semacam ini sangat langka. Jadi, kesempatan berharga ini sebetulnya tidak boleh berlalu sia-sia.
Seorang teman meminta saya supaya menulis rekomendasi untuknya agar urusannya di Kementerian Kewangan Kairo bisa berjalan lancar. Saya bersedia, kemudian saya berpesan, "Jika urusannya bisa berjalan lancar tanpa rekomendasi tersebut, maka sebaiknya (rekomendasi tersebut) tidak usah dipergunakan."
Ia masuk dan mengucapkan "Assalamu'alaikum". Seorang pegawai menjawab dengan ucapan "Salam". Setelah ia mengutarakan maksudnya, ia lalu diperintahkan menghadap ke pegawai lain. Ia pergi ke pegawai yang dimaksud dan mengucapkan "Assalamu'alaikum". Pegawai kedua ini tidak menjawab ucapan salam tersebut, tetapi langsung bertanya, "Ada keperluan apa?" Setelah mengutarakan maksudnya, sekali lagi teman kami itu diperintahkan menghadap ke pegawai lain. Tatkala sudah sampai di pegawai yang dimaksud, ia mengucapkan "Assalamu 'alaikum" dan pegawai itu menjawab, "Wa 'alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Silakan wahai saudaraku, apa ada yang bisa saya bantu?" Ia berkata, "Apakah Tuan bernama.... (menyebut namanya)?" Pegawai itu menjawab, "Ya." Lalu teman kami itu menyodorkan rekomendasi. Kemudian ia dipersilakan duduk dan ditanya banyak tentang Ikhwanul Muslimin. Tidak berapa lama urusannya selesai. Ia pun pulang dan menceritakan kejadian ini kepada saya.
Dari sini kita dapat melihat bahawa seorang pekerja, pegawai, atau pedagang hendaklah selalu berlaku ihsan dalam bekerja dan melayani kepentingan orang lain. Banyak di antara pekerja yang menggunakan kesempatan itu untuk mengeruk kekayaan tanpa peduli halal atau haram. Sebagai seorang muslim kita harus menggunakan kesempatan itu sebagai ladang untuk menunjukkan hakikat kepribadian islami yang sesungguhnya, sebagai-mana Islam mengajarkan kejujuran, kewajiban menepati janji, keramahan, dan sifat-sifat baik lainnya.
Kelima, Menolong dengan Segera Orang yang Memerlukan Pertolongan
Orang yang ditimpa musibah dan memerlukan pertolongan dengan segera, seperti rumahnya terbakar, orang yang tenggelam, atau yang lain, maka dalam kondisi seperti ini kita harus segera berbuat. Sebuah syair Arab mengatakan,
Jangan menunda pertolongan hanya kerana mengharap datangnya bukti
Tatkala saudaramu ditimpa musibah yang mengiris hati
Tatkala berada dalam kondisi yang berbahaya seperti ini, setiap orang akan sangat mengharap adanya orang yang mahu menolong. Oleh kerananya, jika seseorang dalam kondisi seperti ini lalu ada orang yang tampil untuk menolongnya, ini merupakan sifat muru'ah dan akan meninggalkan kesan yang amat baik yang tidak akan terhapus dengan bergulirnya masa, serta akan menumbuhkan rasa cinta kasih.
Seorang mahasiswa yang sedang berjalan kaki tiba-tiba jatuh pingsan, buku-bukunya berserakan dan ia sendiri terluka. Tak seorang pun di sekitarnya yang bergerak menolong, kecuali seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil yang sedang melewati jalan itu. Dengan penuh kasih dan sayang ibu tersebut berusaha menghentikan darah yang terus keluar. Saya sendiri langsung ke tempat telepon untuk memanggil ambulance. Tak lama kemudian mobil ambulance datang dan saya menemaninya ke rumah sakit. Setelah siuman, saya mengantarkannya pulang. Saya disambut oleh keluarganya dengan hangat sekali dan ucapan terima kasih. Sampai sekarang hubungan kami sangat baik.
Anak peremptian saya yang sedang kuhah di Universiti Iskandaria bercerita kepada saya bahawa tatkala ia dan teman-temannya yang berjilbab berada di halaman fakulti, mereka melihat seorang teman perempuan mereka yang tidak memakai jilbab jatuh pingsan dan tersungkur di tanah. Mereka dengan cepat menolongnya.
Tatkala siuman, ia langsung tercengang kerana yang berada di sekitarnya adalah para wanita berjilbab, lalu ia berkata, "Demi Allah, saya tidak pernah berpikir atau membayangkan kalau kalian begitu baik." Mungkin ia telah termakan oleh kebohongan-kebohongan yang disebarkan tentang wanita berjilbab, sehingga ia beranggapan bahawa seorang wanita berjilbab tidak mempunyai rasa kasih sayang dan jiwa sosial.
Fenomena semacam ini menuntut kita untuk turut serta dalam setiap bidang dan aktivitas mereka, selama tidak merusak aqidah kita, agar kita dapat meluruskan pemahaman-pemahaman salah yang menyebar ke mana-mana, sekaligus dapat memperlihatkan hakikat akhlak Islam yang sebenarnya. Kita lebih berhak mengelola lahan-lahan tersebut daripada orang-orang yang ingin mencoreng citra Islam. Jadi, tidaklah dibenarkan apabila kita tinggalkan lahan-lahan tersebut begitu saja. Allah swt. berfirman,
"Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap." (Al-Anbiya': 18)
Allah pun telah memberikan tugas kepada kita,
"Tolaklah kejahatan itu dengan cam yang lebih baik, sehingga orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi temanyangsetia." (Fushilat: 34)
Di salah satu fakulti di Universitas Iskandaria, ada seorang pemuda yang melakukan perbuatan yang sangat bodoh. la merenggut cadar yang dikenakan oleh salah seorang mahasiswi. Ini la lakukan dengan tujuan ingin memancing kemarahan mahasiswa-mahasiswa muslim dan jamaah-jamaah yang ada. Tanpa disangsikan lagi, mahasiswi tersebut langsung berteriak meminta tolong kepada mahasiswa dan mahasiswi yang berada di tempat itu. Para mahasiswa itu pun berhamburan menangkap pemuda tersebut dan memukulinya. Untunglah ada seorang mahasiswa yang memahami situasi yang sedang dihadapi dan dampak yang akan terjadi dan kejadian ini. Mereka kemudian menghadap dekan fakulti dan melaporkan kejadian tersebut.
Pada hari benkutnya, dengan jumlah yang amat banyak, para mahasiswi yang berjilbab mengadakan unjuk rasa. Mereka berjalan dari gedung universiti menuju pejabat walikota dengan melewati jalan-jalan utama. Mereka disambut oleh masyarakat dengan sambutan yang sangat hangat. Ketika sampai di pejabat walikota, mereka disambut oleh walikota dengan sambutan yang baik, layaknya orang tua menghadapi anaknya. Tidak lama setelah itu, turunlah surat keputusan rektor yang berisi tentang pengeluaran mahasiswa tersebut dari bangku kuliah.
Pada tahun 1947 M. Mesir dilanda wabak kolera yang menjadikannya hidup dalam keresahan. Terpanggil oleh tugas sebagai muslim dan dalam rangka membantu pemerintah menangani keadaan yang sedang terjadi, para pemuda dari Jamaah Ikhwanul Muslimin terjun untuk memberikan bantuan. Mereka memasak makanan, memelihara kesehatan, dan mengisolasi daerah yang terkena wabak agar masyarakat yang sakit tidak berbaur dengan masyarakat yang masih sehat. Dengan izin Allah, wabak itu akhirnya menyingkir.
Mengetahui jasa Ikhwanul Muslimin yang begitu besar, pemerintah ingin membalas jasa itu, namun Ustadz Hasan Al-Banna menolaknya seraya menjelaskan bahawa itu memang sudah tugas Ikhwanul Muslimin. Masyarakat pun tidak pernah melupakan jasa Ikhwanul Muslimin itu.
Beberapa waktu yang lalu, saya pergi ke pejabat bea cukai di pelabuhan kota Iskandaria untuk mengambil mobil kiriman dari luar negeri. Setelah mengetahui bahawa beban yang harus saya bayar terlalu besar, saya menemui pimpinan pejabat dengan harapan akan mendapatkan keringanan. Tanpa saya duga, pimpinan pejabat tersebut menyambut saya dengan baik dan memberikan keringanan lebih besar dan jumlah yang saya duga. Dia berkata, "Orang yang mengirim mobil kepada Anda ini sangat besar jasanya terhadap saya. Kisahnya bermula tatkala saya melaksanakan haji pada tahun kemarin. Ketika keluar dari Masjid Al-Haram, saya dapati dompet saya sudah hilang. Seseorang mendekati saya dan menawarkan niat baiknya; ia siap memberi dengan cuma-cuma wang yang saya butuhkan sampai saya kembali ke Mesir. Tawaran
baik itu saya terima. Setelah saya sampai di Mesir, saya kembalikan semua wang yang telah saya pergunakan dengan mengucapkan terima kasih. Oleh kerana itu, sudah menjadi keharusan bagi saya untuk membalas kebaikannya." Begitulah, ucapan yang baik dan amalan yang shalih tidak akan terlupakan begitu saja. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, "Berbuat baiklah, dan lemparkan kebaikan itu ke dalam lautan." Akan tetapi, kami mengatakan, "Berbuat baiklah kerana Allah, niscaya kebaikan itu akan kembali kepadamu di dunia mahupun di akhirat." Tidak diragukan lagi bahawa berbuat baik kepada orang yang berada di negara yang belum dikenal jauh lebih bernilai dibanding berbuat baik kepada orang yang berada di negerinya sendiri. Oleh kerana itulah, Anda akan melihat bahawa hubungan yang terjalin antara perantau lebih kuat daripada hubungan yang terjalin antara penduduk setempat. Syair Arab mengatakan,
Yakinlah akan balasan dari kebaikan yang telah Anda perbuat kerana Allah tidak akan lupa manusia pun punya daya ingat
Pada bulan Ogos 1965 M. turun surat perintah penangkapan atas isteri saya yang berada di wilayah Rasyid. Satu kompi polisi melaksanakan perintah itu. Mereka membawa isteri saya dari kediamannya dengan meninggalkan lima anak: yang paling besar berumur sepuluh tahun dan yang paling kecil berumur dua tahun. Kejadian ini menjadikan kota Rasyid gempar, kerana sudah menjadi kebiasaan anak-anak bahawa mereka —setiap harinya— selalu pergi ke tempat pemberhentian mobil yang datang dari Iskandaria untuk menjemput orang tua mereka sambil berteriak, "Ayah..., Ibu...." Begitu pula setelah peristiwa penangkapan itu, mereka tetap pergi ke tempat pemberhentian mobil, kemudian orang-orang yang berada di tempat itu mengantarkan mereka pulang.
Di tengah-tengah cobaan inilah kita dapat melihat permata-permata yang sudah sekian lama terbungkus oleh lumpur. Isteri saya masih terus mengingat kebaikan sikap kepala kepolisian —yang memimpin penangkapan atas dirinya— yang telah memperlakukannya dengan baik serta memberikan nasihat berharga kepadanya hingga ia diserahkan kepada penjaga-penjaga penjara. Begitu juga tatkala masa tahanan itu habis, kepala kepolisian inilah yang mengantarkannya pulang.
Ia juga selalu mengingat kebaikan seorang penjaga penjara. Sebuah kenangan yang dapat membuatnya menangis, tatkala menceritakan kenangan itu. Ia teringat bagaimana penjaga itu memperlakukannya seperti layaknya seorang anak terhadap lbunya. Penjaga itu mengharap agar ia tetap tenang dan sabar, kerana masa pembebasan semakin dekat. Ia juga teringat bagaimana penjaga itu menahan air mata tatkala melihat kondisinya dan melihat perlakuan penghum penjara yang lain kepadanya.
la menyebut penjaga itu sebagai "malaikat" yang diutus oleh Allah untuk menolong orang-orang sepertinya. Meski kejadian itu telah berlangsung dua puluh tahun yang lalu, namun kami masih tetap berharap mudah-mudahan kami diberi kesempatan bertemu dengan mereka dan membalas kebaikan mereka.
Di antara puluhan tentara yang diberi tugas menyiksa orang-orang Ikhwanul Muslimin, ada seorang tentara yang memperlakukan ratusan orang Ikhwanul Muslimin dengan baik, seakan-akan dia adalah bagian dari mereka. Ini sebuah pemandangan yang sangat jarang dijumpai di tengah-tengah kebuasan tentara-tentara yang lain. Namun akhirnya hal itu diketahui oleh pimpinan penjara dan la pun dimasukkan ke dalam penjara bersama kami dan disiksa dengan siksaan yang tidak manusiawi. Akan tetapi, kebaikan mereka tetap terukir dalam hati kami. Kehidupan akhirat itu lebih mahal, dan pahala dari Allah itu lebih baik daripada sanjungan manusia.
Setelah saya jatuh tersungkur kerana ganasnya siksaan, ada seorang petugas yang diperintahkan untuk menyuruh saya lari menuju sel penjara. Tatkala ia melihat saya tidak mampu melakukan perintah itu, ia menolong saya dan membopong saya. Akan tetapi, kejadian itu dilihat oleh salah seorang di antara mereka dan melaporkannya kepada pimpinan. Akhirnya petugas tadi mendapatkan siksaan cambuk yang lebih berat daripada siksaan yang kami alami, sebagai ganjaran atas tindakan-nya dan agar yang lain merasa jera.
Meski ia sudah mengalami siksaan, tetapi ia tetap memberikan pertolongan terhadap saya, ia memberi saya tambahan segelas air minum setiap harinya. Jatah untuk kami hanya satu gelas dalam sehari semalam dan kadang-kadang tidak sama sekali. Nama petugas itu adalah Rasyad Mifrak. Mungkin Anda bertanya bagaimana saya bisa mengetahui nama petugas itu. Suatu waktu saya memanggilnya dengan namanya, ia kaget dan marah lalu berkata, "Bagaimana Anda mengetahui nama saya? Ia sebuah larangan!" Saya berkata, "Wahai Tuan Rasyad, nama Tuan tertulis di lengan Tuan." Lalu dengan cepat ia mengikat lengannya dengan sapu tangan agar nama yang tertatu di lengannya itu tidak terbaca.
Masuk Islamnya Roger Garaudy
Apa yang menjadikannya masuk Islam? Marilah kita semak pemaparannya. "Saat itu saya termasuk dalam pasukan Perancis yang ditugaskan memerangi kaum muslimin Aljazair pada peristiwa pergolakan di Aljazair pada tahun 1960 M. Dalam peristiwa itu saya tertangkap sebagai tawanan kaum mujahidin Aljazair. Setelah keputusan diambil maka ditetapkan bahawa saya harus dihukum mati. Pemimpin mujahidin memberikan tugas itu kepada seorang mujahid dan memerintahkan agar hukuman itu dilakukan di atas bukit. Tatkala saya berada di atas bukit bersama seorang mujahid tadi, tanpa ada pengawalan, mujahid itu bertanya kepada saya, 'Apakah Anda membawa senjata?' Saya menjawab, 'Tidak, saya tidak membawa senjata.' Mujahid itu berkata, 'Bagaimana mungkin saya membunuh orang yang tidak bersenjata.' Kemudian saya dilepaskan."
Garaudy berkata, "Bertahun-tahun kejadian ini terus menggelitik hati saya. Kemudian saya mempelajari Islam, sehingga menjadi gamblang pemahaman saya terhadap ajaran Islam. Kejadian ini sangat berperan dalam keislaman saya." Dunia pun gempar dengan masuk Islamnya Roger Garaudy.
Keenam, Menolong Orang yang Lemah
Dalam suasana yang berdesak-desakan tatkala bepergian —baik saat berangkat mahupun saat pulang; baik di pesawat terbang, kereta api, mahupun yang lain— seseorang pasti membutuhkan orang lain yang mahu mem-bantunya untuk mengangkat dan menjagakan barang-barang bawaannya. Betapa banyak orang yang melaku-kan perjalanan sedang dirinya dalam keadaan sakit, sudah barang tentu ia membutuhkan orang yang mahu membawakan barang-barang bawaannya.
Kadang-kadang ada orang yang ingin mengirimkan sebuah paket pos atau surat kilat, tetapi ia tidak bisa melakukannya sendiri, mungkin kerana sakit atau kerana yang lain.
Maka alangkah baiknya jika Andalah orang yang tampil memberikan bantuan-bantuan tersebut. Rasul saw. sudah menganjurkan kepada kita agar melakukan hal semacam ini, sebagaimana dalam hadits yang diriwa-yatkan oleh Muslim dari Muadz bin Jabbal ra.,
"... dan menolong orang, dengan mengangkatnya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah."
Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra., ia berkata, "Tatkala kami dalam perjalanan bersama Rasulullah, tiba-tiba datang seorang laki-laki menunggang kendaraan lalu menengok ke kanan dan ke kiri." Maka Rasulullah saw, bersabda,
"Barangsiapa mempunyai perbekalan lebih, hendaklah memberikannya kepada orangyang tidak mempunyai perbekalan. "
Banyak di antara kita yang mempunyai mobil, bah-kan kadang-kadang lebih dari satu. Hal ini merupakan kesempatan bagi kita untuk menolong orang-orang yang membutuhkan tumpangan, dan tentu saja akan memberikan kesan yang amat dalam bagi mereka.
Ada seorang teman yang dalam setiap waktu luang-nya selalu berputar-putar dengan mobilnya menyusuri jalanan, dengan harapan akan menjumpai orang yang memerlukan bantuannya. Dengan perilaku yang demi-kian, ia mempunyai banyak teman di setiap sudut kota.
Suatu hari petugas lalu lintas menangkapnya dengan tuduhan telah melanggar peraturan, yakni menggunakan mobil pribadi untuk mengangkut penumpang. Akan tetapi, setelah petugas tersebut mengetahui bahawa pe-kerjaannya itu dilakukan hanya kerana ingin menolong tanpa meminta upah, mereka pun kaget dan kagum, kemudian melepaskannya.
Pada hari-hari pertama keikutsertaan saya dalam dakwah Ikhwanul Muslimin, saya berusaha menemukan cara untuk berkenalan dengan orang lain.
Tatkala saya sedang naik trem, saya usahakan agar saya bisa berdiri di tangga, dengan harapan agar saya dapat menolong menaikkan atau menurunkan barang bawaan. Akan tetapi, banyak penumpang yang menolak maksud baik saya, kerana prasangka yang buruk telah lebih dahulu mengisi benak mereka. Mereka menganggap saya sebagai seorang pencuri. Sejak hari itu, saya menyadari bahawa pekerjaan seperti ini harus mendapat izin dari yang mempunyai barang terlebih dahulu, kalau tidak, kita akan berurusan dengan aparat keamanan.
Di antara tulisan Ustadz Umar At-Tilmisani yang dimuat di harian Asy-Syarqul Ausath, berbunyi, "Beberapa waktu lamanya, di Mesir pernah merajalela para perompak yang menghadang jalanan di malam hari. Modus operandinya adalah dengan berpura-pura sebagai seorang yang terkena musibah, lalu mereka menghentikan mobil yang sedang lewat dengan alasan memmta tolong. Akan tetapi, setelah mobil itu berhenti mereka langsung merampok segala yang ada di mobil, bahkan pakaian yang dikenakan oleh para penumpangnya pun ikutdisikat."
Pada suatu hari yang sudah lewat tengah malam, Ustadz Hasan Al-Banna masih dalam perjalanannya pulang ke Kairo. Dalam perjalanan itu beliau melihat sebuah mobil sedang berhenti di pinggir jalan dan seseorang menghentikan mobil beliau. Tanpa ragu-ragu beliau meminta pemandunya agar menghentikan mobil, lalu beliau pun turun dan mobil dan mendekati laki-laki tersebut, serta menanyakan hal yang dibutuhkan. Laki-laki itu mengatakan bahawa bahan bakar mobilnya habis, maka dengan sangat memohon agar diberi sedikit benzene. Pada masa itu klakson mobil belum secanggih sekarang, masih berupa terompet pijat, yaitu sebuah terompet yang berbadankan kantong udara yang terbuat dan kulit. Jika kantong itu ditekan maka terompet itu akan berbunyi. Ustadz Hasan Al-Banna lalu kembali ke mobilnya dan melepas kantong terompet itu serta mengisinya dengan benzene beberapa kali. Ini semua beliau lakukan tanpa harus menanyakan terlebih dahulu nama, agama, atau pekerjaan orang yang ditolong itu. Inilah sifat ulama dalam berbuat kebajikan. Laki-laki ltu terhairan-hairan dengan sikap beliau, maka la memperkenalkan dirinya, "Nama saya Muhammad Abdurrasul, hakim di penga-dilan Kairo. Siapakah nama Anda?" Dengan tawadhu' beliau menjawab, "Nama saya Hasan Al-Banna, guru di Madrasah Ibtida'iyah Al-Banin." Hakim itu bertanya, "Hasan Al-Banna, Ketua Umum Ikhwanul Muslimin?" Beliau menjawab, "Ya." Sejak saat itu Ustadz Muhammad Abdurrasul berdiri sebagai pembela Ikhwanul Muslimin di pengadilan.
Inilah kisah yang diceritakan oleh Ustadz Muhammad Abdurrasul kepada saya, tatkala beliau menjabat sebagai hakim di pengadilan Syabin Al-Kum. Allah-lah yang menjadi saksi atas segala yang saya paparkan.
Kisah ini dialami oleh seorang muslim warga negara Jerman yang bernama Yahya Syuvskuh. Kisah ini bermula tatkala ia dan isterinya menumpang kendaraan umum. Waktu itu mereka berdua duduk di kursi. Tidak lama kemudian seorang laki-laki tua berkebangsaan Afrika naik dan ternyata kursi-kursi sudah penuh dengan penumpang, sehingga bapak tua itu pun berdiri. Dengan cepat Yahya bangkit dan mempersilakan bapak tua itu untuk duduk. Bapak tua ltu pun berterima kasih lalu duduk, namun tiba-tiba la menangis. Yahya terkejut dan bertanya tentang sebabnya, tetapi tak menemukan hasil, kerana bapak tua itu berbicara dengan bahasa Inggris sedangkan Yahya tidak dapat berbahasa Inggris. Lalu ia mencari tahu dan para penumpang yang lain, dan dari merekalah ia mengetahui bahawa bapak tua itu datang dari Afrika Selatan dan baru pertama kali ini bapak tua itu melihat ada orang kulit putih yang mahu memberikan tempat duduknya. Yahya menceritakan kisah ini seraya berkata, "Inilah Islam."
Masih dalam kisah Yahya. Kisahnya kali ini terjadi tatkala ia berada di kota Makkah. Ketika tiba waktu shalat, ia pergi ke Masjid Al-Haram. Ia lupa tidak membawa sajadah. Tatkala berdiri untuk melakukan shalat ia melihat di tempat sujudnya terdapat batu-batu kerikil, ia berkata dalam hati, "Ini adalah bagianku." Akan tetapi, tiba-tiba orang berkebangsaan India yang berada di sebelahnya melepaskan jaketnya dan menghampar-kannya di tempat sujud Yahya. Yahya menutup kisahnya dengan ucapan, "Inilah Islam."
